Kamis, 14 Juni 2018

Mengenal Pedal Efek Gitar

Pedal Efek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentuk ciri khas seorang gitaris. Maka untuk mendapatkan tone yang diinginkan seorang musisi atau produser harus memahami apa peran dan fungsi dari setiap jenis pedal yang digunakan. Setiap pedal memiliki fungsi berbeda yang tentunya akan berlainan efeknya jika urutan penempatannya diubah. Maka ga usah terlalu banyak dibayangkan, langsung menuju TKP!

Rabu, 13 Juni 2018

Tips Mendapatkan Tone Gitar yang Tepat

Berulangkali kita dapatkan lagu yang keren tapi terasa hambar hanya karena gitarnya terdengar menyayat telinga, sama sekali tidak nyaman di dengar! Ada juga tone gitar yang bagus tapi terasa kurang 'nendang'. Atau mungkin clean yang indah tetapi tidak bisa penuh mengisi kebutuhan lagu, seperti ada yang kurang..

Masalah di atas sering ditemui dalam studio rekaman jika gitaris tidak bisa meracik sendiri tone gitar yang tepat untuk kebutuhan lagu. Maka kali ini kita akan membahas hal itu demi mendapatkan hasil mixing yang maksimal!

Selasa, 12 Juni 2018

Speaker Monitor DS5A: Murah, Bukan Murahan! (REVIEW)

Lama tidak posting ya. Hehehehe.. Kali ini mimin mau review mainan baru di Grenada Studio: Speaker Monitor DS5A.

Gear Review ini merupakan serial baru dari mimin untuk mengenalkan tools mixing baik software maupun hardware yang SUDAH pernah mimin gunakan saat mixing. Review ini sama sekali tidak disponsori pihak manapun, murni dari telinga dan hati nurani (bahahaha). Tapi kalau ada yang mau promote, mimin terima kok. 😏

Oke, cerita dulu yak.. Ini speaker pribadi mimin yang pertama kali kenal dari ZealMusik sama blog-nya mas Cahya. Awalnya sih cuek aja, karena sudah ada si putih YAMAHA HS-5 milik Grenada Studio. Tapi ketika ada momen terpikir untuk beli speaker buat studio pribadi, barulah otak berputar dan AHA! Teringatlah dengan speaker ini.

Speaker ini saya dengar pertama kali di showroom ZealMusik Jogja. Kesannya sih awalnya biasa aja. Karena belum mengaktifkan mode "Critical Listening". Hehehehe.. Kampus 3 pun menggunakannya di bawah naungan Mas Jaka. Tapi setelah melihat beberapa review dan sempat mendengarnya langsung, dengan mantap saya pesan langsung via Tokopedia di lapak Apregio Musik Surabaya dengan harga 1,75 juta (Mei 2018).

By the way, ni speaker rakitan China yang serumpun dengan merek ISK yang terkenal sebagai gear kere hore buat home studio. Kalau menurut blog resminya sih, frequency response-nya hampir flat, alias benar-benar jujur (lihat gambar di bawah). Tapi, tetap saja, hearing is believing. Dengan mendengar langsung baru bisa percaya.
Frequency Response DS5a (versi situs resminya)

Review Eksterior

Begitu sampai, paketnya terasa ringan. Speaker ini bercasing kayu dan terasa jauh lebih ringan dibanding speaker luar negeri seperti Yamaha, KRK, dll. Hanya 9 kg satu pasang! Powernya pun hanya satu, di speaker kiri yang memiliki LED biru di depan. Speaker kanan dihubungkan lewat kabel output biasa untuk mentransfer power dan data audio dari speaker kiri. Jadi, lebih simpel ya. Tombol power cukup satu di kiri. Gak perlu lagi cetek kanan - cetek kiri seperti Yamaha. Rivet!! 😓

Inputnya ada dua macam: TRS dan RCA. RCA ini menggunakan satu kabel stereo yang bisa kita colokkan ke output headphone. Sementara TRS adalah 2 input kabel jack 1/4" biasa (kabel PA untuk gitar dan keyboard) yang harus dihubungkan sesuai L dan R output dari soundcard. Pakainya salah satu aja, ga perlu dua-duanya. Bisa jebol nanti gara-gara overload. Hehehehe....

Di belakang juga kontrol tone speakernya sangat simpel: hanya Volume! Tidak ada room control, bass response, treble dan lain sebagainya. Untuk amannya, arahkan tombol volume ke mode netral, posisi angka 12. Standar lah yaa..

Karakter Speaker

Nah, kita masuk ke pembahasan intinya nih: bagaimana kualitas suara yang dihasilkan???
Di sini saya menggunakan sistem A/B Comparison antara DS5A dengan Yamaha HS-5 milik studio. Routing master output saya pecah jadi dua ke masing-masing speaker, lalu saya Solo bergantian. Setelah saya gain-matching (menyamakan volume output) dan dengarkan bolak-balik, saya terkejut dengan hasilnya! Ini speaker kere tapi kualitasnya gile!

Pandangan pertama saya menyimpulkan high-end alias treble speaker ini memang lebih tinggi ketimbang HS-5. Otomatis telinga langsung ambil kesimpulan: bassnya kalah sama HS-5. Tapi setelah saya solo low-end nya lewat multi band compressor, ternyata tidak ada beda! Dari situ saya mulai introspeksi telinga. Wakakakak..

cek low end pake solo multiband
Saya mengambil lagu referensi band favorit sepanjang masa: Dream Theater dengan lagu Forsaken. Langsung masuk reff, diputar loop, dan... Baru sekali pindah speaker saya lebih terkejut lagi. DS5A memiliki mid-range definition/clarity yang sangat detail dan jelas, jauh di atas HS-5! Vokal sangat terasa lebih menonjol, instrumentasi ritem gitar yang super tebal terdengar lebih galak. Dengan kata lain, separasi antar instrumen sangat mudah dirasakan. Lalu, apa keuntungannya? 

Jelas untung! Saat EQ, saya merasa lebih mudah untuk berkonsentrasi ke instrumen yang saya ulik. Pergesaran EQ pun lebih mudah terdeteksi dan terasa efeknya, Sehingga memudahkan kita untuk membagi ruang frekuensi antar instrumen yang sering bertabrakan, terutama bagian mid-range: antara 2k - 4k.


Kalau meminjam istilah Paul Mike Stavrou, hardness/firmness speaker ini lebih nendang dibanding speaker Yamaha HS-5. Perbandingannya, skor 7 sama skor 5 lah. Jadi saya merasa sangat sesuai dengannya. Karena sekian banyak mixingan saya banyak dikritik oleh senior saya (seperti Suhu Hasan Muttaqin, hehehe..), terasa terlalu nendang dan keras, cenderung berkarakter metal. Sehingga untuk mengimbanginya agar menjadi tidak melulu keras, saya perlu hijrah ke speaker berkarakter cadas juga seperti DS5A ini. Jadi nanti lebih soft-soft empuk gitu. 🤔

Meskipun saya melihat banyak keunggulan, tapi tetap saja setiap monitor memiliki karakter masing-masing yang tentunya bisa bermanfaat dalam berbagai kondisi. Maka tidak heran di studio profesional banyak kita temui yang menggunakan dual monitor bahkan sampai 4 pasang monitor! Umumnya sih: satu speaker mono di tengah, dua pasang nearfield-monitor di sekitar mixer, dan sepasang speaker dinding di belakang mixer! Itu gunanya tentu untuk mengecek translation hasil mixing sehingga terdengar maksimal di segala jenis speaker apapun.

Multi Monitoring di AIR Studios London

Tips: Kenalan dengan Speaker

Speaker apapun bagusnya tidak akan menghasilkan potensi maksimal kalau kita belum berkenalan sebelum menggunakannya. Kenalan di sini tentunya dengan memutar hasil mixing kualitas profesional yang sudah kita kenal baik warna suaranya. Sehingga dengan cepat kita bisa menilai karakter dari speaker. Dari interview sekian banyak mixing engineer, banyak yang menyarankan tidak langsung memulai mixing saat bekerja di studio yang baru ditemui, tentunya perlu masa perkenalan ini. 

Seberapa lama dan seberapa banyak lagu kenalannya? Itu sangat subjektif. Bisa jadi 5 lagu, 1 jam, bahkan mungkin saja 3 hari kita putar sekian banyak album baru kita merasa kenal. Cukup ikuti suara hati aja.. Wakakakakk

Sekian dulu gaes, kalau ada pertanyaan, sangkalan, protes, atau nagih hutang sekalian, silahkan sampaikan di komentar bawah ini. Seeya!

Glossary:
  • translation: kemampuan sebuah lagu untuk bisa dinikmati dengan maksimal di semua jenis speaker
  • near-field monitor: jenis speaker yang biasa dipakai dengan jarak dekat seperti pada umumnya home recording studio
  • high-end: Frekuensi tinggi dari audio (>6 KHz)
  • low-end: Frekuensi rendah dari audio (<1 KHz)
  • mid-range: Frekuensi pertengahan dari audio (1 - 4 KHz)

Kamis, 15 Maret 2018

5 Langkah Mengawali Mixing di Home Studio

Di balik tutorial proses mixing para profesional yang terlihat menyenangkan dengan berbagai plugin yang digunakan, ternyata ada pekerjaan di belakang layar yang seringkali tidak diungkap.

Dalam studio mixing profesional, para mixing engineer profesional memiliki asisten mixing pribadi yang mempersiapkan segalanya agar siap mixing. Masalahnya sekarang, dalam home studio kayak kita begini, memang ada asisten pribadi? MIMPI BANGET!! Wkwkwkwk..

Maka dari itu agar mixing kita maksimal kita harus mempersiapkan track kita agar siap digunakan. Dan tentunya langkah ini sangat krusial yang bisa menentukan proses dan hasil mixing kita nantinya.
Apa saja langkah-langkah tersebut?

Minggu, 28 Januari 2018

Mixing Lebih Maksimal dengan VU Meter

Gain staging (mengeset volume audio mentah) dalam mixing sangat penting untuk mendapatkan hasil mixing maksimal. Dan semuanya bermula dari fase rekaman pertama kali saat mic mulai merekam audio dengan volume rata-rata -18db. Namun adakah cara yang lebih mudah untuk monitoring volume audio yang terekam?
Ternyata ada! Dan namanya adalah:

VU METER


Dalam dunia rekaman, ada berbagai pilihan jenis audio meter untuk memonitor seberapa kencang audio direkam atau diputar. Sementara rekaman digital modern yang ITB (In-The-Box) menggunakan peak meter, para operator mixing terdahulu menggunakan VU Meter yang biasa kita lihat di hardware mixer jadul yang khas dengan jarum yang bergerak-gerak.

Ternyata VU Meter memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan peak meter bawaan DAW, yaitu:
  • Hasil mixing kita akan berkualitas lebih bagus
  • Kita akan terbantu mendapatkan headroom yang tepat untuk mastering
  • Plugin audio akan bekerja lebih maksimal
  • Memudahkan pekerjaan mastering engineer
  • Memudahkan kita dalam menemukan volume yang tepat saat mixing
  • Menyelesaikan masalah volume audio antar track dengan lebih cepat

Jenis-Jenis Audio Meter

Sebelum kita berbicara lebih jauh masalah VU Meter, ada baiknya kita kenalan dulu dengan beberapa jenis audio meter yang sering kita lihat:

1. Peak Meter

Peak adalah istilah untuk menunjukkan seberapa kencang audio dengan satuan dBFS (Decibels Full Scale). Peak Meter bereaksi cepat dan realtime saat menunjukkan sinyal audio. Hampir semua DAW menyediakan meter jenis ini dan sangat berguna (dibantu dengan VU Meter) saat proses rekaman untuk menghindari kliping digital, terutama rekaman drum dan perkusi yang kencang dan sangat dinamis.

2. RMS Meter

RMS meter ini sering kita lihat di master fader dan plugin khusus mastering (sepert Slate FG-X di gambar). RMS menggunakan satuan dari akar kuadrat sinyal rata-rata audio. Artinya meter ini tidak bersifat realtime dan secepat peak meter, tapi menunjukkan nilai rata-rata dari volume audio. RMS meter digunakan untuk penghitungan statistik terhadap volume keseluruhan dan sangat berguna untuk mastering.

3. VU Meter
VU meter ini sering kita jumpai pada hardware mixing klasik dan plugin VST yang menjiplak hardware analog (seperti PSP Vintage Warmer di atas). VU meter menggunakan satuan dbVU (Decibels Volume Unit) yang memiliki respon yang paling lambat dibandingkan meter lainnya dan tidak mengikuti lonjakan volume audio secara realtime seperti Peak meter. Ia bekerja menilai audio seperti halnya telinga manusia dengan menggunakan rata-rata volume keseluruhan (sama dengan RMS). Karena itu VU meter sangat berguna saat fase mixing.

Peak Meter vs VU Meter

Seperti kita ketahui keduanya memiliki satuan yang berbeda (dbFS dan dbVU). Keduanya sama-sama memberi kita gambaran volume audio, tetapi dengan perspektif yang berbeda.

Dalam rekaman digital, 0dbFS (di peak meter DAW) merupakan puncak dari meter, yang tidak bisa ditembus. 
Jika volume sinyal masuk melebihi itu, maka dia akan terpenggal dan terjadilah clipping digital. Hasilnya adalah distorsi yang sangat jelek dan audio yang terekam tidak layak pakai. HINDARI ITU.

Kesimpulannya, tujuan utama peak meter adalah memberi kita batasan yang jelas agar tidak terjadi clipping.

Adapun VU Meter bergerak lebih lambat karena bekerja dengan menghitung nilai rata-rata dari audio yang kita dengar (RMS). Karena itulah, VU meter bisa memberi kita gambaran lebih jelas "seberapa kencang" audio yang kita dengar, dan lebih membantu saat rekaman dan mixing.

VU Meter memiliki nilai 0 juga. Bedanya nilai 0 ini bukan nilai mutlak yang tidak boleh ditembus. Sehingga tidak masalah jika beberapa saat VU meter melewati angka 0. Karena angka 0dbVU itu setara dengan -18 dbFS pada Peak meter....!
0 dbVU = -18 dbFS


Jadi, saat merekam audio kita tidak perlu pusing melihat meter DAW dengan angka-angkanya yang kecil itu, cukup pasang VU meter dan pastikan jarumnya berputar-putar sekitar angka 0. Lebih nyaman, bukan?

Sekalipun begitu, Peak Meter tetap unggul di atas VU meter saat monitoring rekaman drum dan instrumen perkusi. Karena perubahan volume yang sangat dinamis dan cepat tidak dapat ditangkap dengan baik oleh VU Meter. Sekalipun begitu, hampir semua plugin VU Meter sekarang ini menyediakan mode PPM (peak meter) sehingga bisa digunakan untuk monitoring rekaman drum dan sejenisnya.

Mixing dengan VU Meter

Dengan memanfaatkan nilai 0 pada VU meter, kita akan mendapatkan volume audio yang optimal untuk diproses dengan plugin. Jika kita menilik sejarah rekaman, zaman analog dulu, para teknisi mixing selalu mengeset volume audionya sekitar 0 VU sebelum memprosesnya dengan compressor atau EQ analog klasik agar mendapatkan efek yang optimal dan berkualitas.

Artinya, jika kita terapkan nilai 0 VU saat menggunakan plugin tiruan hardware analog, semua preset dan setting kita akan menghasilkan suara yang lebih baik yang berujung pada hasil mixing yang lebih baik pula. 

Jika kita terapkan penggunaan VU meter pada Master Track, kita akan mendapatkan hasil mixing dengan headroom yang optimal untuk mastering, yang tentunya output lagu kita akan melonjak kualitasnya!
Fitur Trim di bawah meter

Kita bisa menggunakan fitur Trim (lihat di bawah meter pada gambar di atas) untuk mengatur volume audio langsung dari plugin tanpa perlu menggunakan item gain atau Volume pre-FX yang sudah dijelaskan di posting sebelumnya.

Unduh Plugin VU Meter Gratis!

VU Meter tersedia di hampir semua plugin jiplakan hardware analog semacam kompresor LA-2A, CLA-76, Fairchild, dan lain-lain. Tetapi ada juga versi khusus metering saja. Pilihan saya jatuh pada Klanghelm VUMT yang memiliki fitur luar biasa lengkap dan tampilan skins beragam yang menarik. Ia bisa menjadi single monitor untuk mono plus dual monitor untuk stereo, memiliki filter hi-pass/low-pass, mode Stereo dan Mid-Side, dan seterusnya. Klik di sini untuk mencari versi pak tani dengan nomor 18 (sandi: unstoppable88). Hehehehehe...
Klanghelm VUMT Deluxe - the best VU Meter

Adapun untuk versi gratisnya saya jatuh cinta pada StereoChannel dari SleepyTimer yang bisa di download di sini.
StereoChannel VST - SleepyTimer Records
Sumber 2
Sumber 3