Minggu, 28 Januari 2018

Mixing Lebih Maksimal dengan VU Meter

Gain staging (mengeset volume audio mentah) dalam mixing sangat penting untuk mendapatkan hasil mixing maksimal. Dan semuanya bermula dari fase rekaman pertama kali saat mic mulai merekam audio dengan volume rata-rata -18db. Namun adakah cara yang lebih mudah untuk monitoring volume audio yang terekam?
Ternyata ada! Dan namanya adalah:

VU METER


Dalam dunia rekaman, ada berbagai pilihan jenis audio meter untuk memonitor seberapa kencang audio direkam atau diputar. Sementara rekaman digital modern yang ITB (In-The-Box) menggunakan peak meter, para operator mixing terdahulu menggunakan VU Meter yang biasa kita lihat di hardware mixer jadul yang khas dengan jarum yang bergerak-gerak.

Ternyata VU Meter memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan peak meter bawaan DAW, yaitu:
  • Hasil mixing kita akan berkualitas lebih bagus
  • Kita akan terbantu mendapatkan headroom yang tepat untuk mastering
  • Plugin audio akan bekerja lebih maksimal
  • Memudahkan pekerjaan mastering engineer
  • Memudahkan kita dalam menemukan volume yang tepat saat mixing
  • Menyelesaikan masalah volume audio antar track dengan lebih cepat

Jenis-Jenis Audio Meter

Sebelum kita berbicara lebih jauh masalah VU Meter, ada baiknya kita kenalan dulu dengan beberapa jenis audio meter yang sering kita lihat:

1. Peak Meter

Peak adalah istilah untuk menunjukkan seberapa kencang audio dengan satuan dBFS (Decibels Full Scale). Peak Meter bereaksi cepat dan realtime saat menunjukkan sinyal audio. Hampir semua DAW menyediakan meter jenis ini dan sangat berguna (dibantu dengan VU Meter) saat proses rekaman untuk menghindari kliping digital, terutama rekaman drum dan perkusi yang kencang dan sangat dinamis.

2. RMS Meter

RMS meter ini sering kita lihat di master fader dan plugin khusus mastering (sepert Slate FG-X di gambar). RMS menggunakan satuan dari akar kuadrat sinyal rata-rata audio. Artinya meter ini tidak bersifat realtime dan secepat peak meter, tapi menunjukkan nilai rata-rata dari volume audio. RMS meter digunakan untuk penghitungan statistik terhadap volume keseluruhan dan sangat berguna untuk mastering.

3. VU Meter
VU meter ini sering kita jumpai pada hardware mixing klasik dan plugin VST yang menjiplak hardware analog (seperti PSP Vintage Warmer di atas). VU meter menggunakan satuan dbVU (Decibels Volume Unit) yang memiliki respon yang paling lambat dibandingkan meter lainnya dan tidak mengikuti lonjakan volume audio secara realtime seperti Peak meter. Ia bekerja menilai audio seperti halnya telinga manusia dengan menggunakan rata-rata volume keseluruhan (sama dengan RMS). Karena itu VU meter sangat berguna saat fase mixing.

Peak Meter vs VU Meter

Seperti kita ketahui keduanya memiliki satuan yang berbeda (dbFS dan dbVU). Keduanya sama-sama memberi kita gambaran volume audio, tetapi dengan perspektif yang berbeda.

Dalam rekaman digital, 0dbFS (di peak meter DAW) merupakan puncak dari meter, yang tidak bisa ditembus. 
Jika volume sinyal masuk melebihi itu, maka dia akan terpenggal dan terjadilah clipping digital. Hasilnya adalah distorsi yang sangat jelek dan audio yang terekam tidak layak pakai. HINDARI ITU.

Kesimpulannya, tujuan utama peak meter adalah memberi kita batasan yang jelas agar tidak terjadi clipping.

Adapun VU Meter bergerak lebih lambat karena bekerja dengan menghitung nilai rata-rata dari audio yang kita dengar (RMS). Karena itulah, VU meter bisa memberi kita gambaran lebih jelas "seberapa kencang" audio yang kita dengar, dan lebih membantu saat rekaman dan mixing.

VU Meter memiliki nilai 0 juga. Bedanya nilai 0 ini bukan nilai mutlak yang tidak boleh ditembus. Sehingga tidak masalah jika beberapa saat VU meter melewati angka 0. Karena angka 0dbVU itu setara dengan -18 dbFS pada Peak meter....!
0 dbVU = -18 dbFS


Jadi, saat merekam audio kita tidak perlu pusing melihat meter DAW dengan angka-angkanya yang kecil itu, cukup pasang VU meter dan pastikan jarumnya berputar-putar sekitar angka 0. Lebih nyaman, bukan?

Sekalipun begitu, Peak Meter tetap unggul di atas VU meter saat monitoring rekaman drum dan instrumen perkusi. Karena perubahan volume yang sangat dinamis dan cepat tidak dapat ditangkap dengan baik oleh VU Meter. Sekalipun begitu, hampir semua plugin VU Meter sekarang ini menyediakan mode PPM (peak meter) sehingga bisa digunakan untuk monitoring rekaman drum dan sejenisnya.

Mixing dengan VU Meter

Dengan memanfaatkan nilai 0 pada VU meter, kita akan mendapatkan volume audio yang optimal untuk diproses dengan plugin. Jika kita menilik sejarah rekaman, zaman analog dulu, para teknisi mixing selalu mengeset volume audionya sekitar 0 VU sebelum memprosesnya dengan compressor atau EQ analog klasik agar mendapatkan efek yang optimal dan berkualitas.

Artinya, jika kita terapkan nilai 0 VU saat menggunakan plugin tiruan hardware analog, semua preset dan setting kita akan menghasilkan suara yang lebih baik yang berujung pada hasil mixing yang lebih baik pula. 

Jika kita terapkan penggunaan VU meter pada Master Track, kita akan mendapatkan hasil mixing dengan headroom yang optimal untuk mastering, yang tentunya output lagu kita akan melonjak kualitasnya!
Fitur Trim di bawah meter

Kita bisa menggunakan fitur Trim (lihat di bawah meter pada gambar di atas) untuk mengatur volume audio langsung dari plugin tanpa perlu menggunakan item gain atau Volume pre-FX yang sudah dijelaskan di posting sebelumnya.

Unduh Plugin VU Meter Gratis!

VU Meter tersedia di hampir semua plugin jiplakan hardware analog semacam kompresor LA-2A, CLA-76, Fairchild, dan lain-lain. Tetapi ada juga versi khusus metering saja. Pilihan saya jatuh pada Klanghelm VUMT yang memiliki fitur luar biasa lengkap dan tampilan skins beragam yang menarik. Ia bisa menjadi single monitor untuk mono plus dual monitor untuk stereo, memiliki filter hi-pass/low-pass, mode Stereo dan Mid-Side, dan seterusnya. Klik di sini untuk mencari versi pak tani dengan nomor 18 (sandi: unstoppabble88). Hehehehehe...
Klanghelm VUMT Deluxe - the best VU Meter

Adapun untuk versi gratisnya saya jatuh cinta pada StereoChannel dari SleepyTimer yang bisa di download di sini.
StereoChannel VST - SleepyTimer Records
Sumber 2
Sumber 3

Selasa, 23 Januari 2018

MITOS: Rekam Yang Kencang Asalkan Tidak Clipping!

Seringkali kita dengar tips untuk merekam instrumen sekencang-kencangnya asalkan tidak clipping. Alasannya agar suaranya lebih tebal dan 'hangat'. Benarkah?

Ternyata tidak sama sekali....!!! 

Cara merekam zaman now dengan 10 tahun yang lalu sangatlah berbeda sama sekali. Adanya tips di atas itu karena keadaan memaksa operator rekaman melakukannya.

Pertama, zaman old merekam menggunakan console dan hardware analog yang pastinya memiliki noise yang sangat parah.

Maka untuk menutupi suara noise, audio harus direkam dengan kencang.

Kedua, semakin kencang kita merekam di zaman old, hardware analog akan menghasilkan karakter suara tebal (harmonic saturation) dan kompresi yang nyaman didengar telinga. Sementara dalam dunia rekaman digital keuntungan itu..... TIDAK ADA. Kita merekam pelan ataupun kencang maka kualitas audionya akan sama, hanya berbeda level/volume.

JUSTRU, dalam rekaman digital, Clipping merupakan zona terlarang dan sangat haram dilakukan.

Karena clipping dunia digital tidak bermanfaat apa-apa dan sangatlah merusak kualitas audio sehingga tidak layak dipakai....! Kesimpulannya, tidak usahLAH kita bermain-main dengan api. Tidak ada gunanya merekam kencang yang sangat beresiko clipping.

JADI SOLUSINYA....?

Karena teknologi sekarang ini rekaman menggunakan digital atau ITB (In-The-Box, dalam komputer maksudnya, hehehe..), kita tidak lagi perlu merekam terlalu kencang.

Kita cukup merekam dengan memperhatikan gain staging alias volume optimal yang memudahkan plugin memproses audio. Yaitu merekam dengan volume rata-rata sekitar -18 db

Ada apa dengan -18 db?

-18 db merupakan volume optimal dalam rekaman analog yang dikonversi ke rekaman digital. Artinya jika kita merekam dengan rata-rata -18 db, plugin akan mampu bekerja lebih maksimal, lebih berkarakter, lebih hangat, lebih bagus, dan lebih-lebih lainnya.

Semua plugin audio dikalibrasi untuk bekerja maksimal pada volume -18db, apapun mereknya. Tentunya masih ada toleransi dinamika audio yang paling kencang sekitar -12 db, tapi jangan lebih dari itu...!

Tapi, audio terlanjur direkam terlalu keras, bagaimana dong?

Kalau memang sudah terlanjur direkam terlalu keras, kita masih bisa memanfaatkan file audio yang ada. Namun harus dilakukan gain staging (pengaturan ulang volume mentah audio) secara manual. Dalam REAPER, kita bisa menggunakan fitur item volume ataupun pre-FX volume.

Gain Staging dengan Item Volume:
1. Biarkan volume tetap posisi awal (0 db)
2. Arahkan mouse ke atas item hingga berbentuk panah. 

3. Klik tahan ke bawah hingga volumenya sekitar -18 db sampai -12 db.

Gain Staging dengan Pre-FX Volume:
1. Biarkan volume tetap posisi awal (0 db)
2. Klik tombol automasi pada track
3. Pada jendela automasi pilih Volume (Pre-FX)
4. Klik tahan pada garis lurus warna hijau dan atur hingga volumenya kisaran -18 db. 

Jadi, mulai sekarang, turunkan volume input di sound card-mu dan berhenti merekam terlalu kencang...!

Sumber

Minggu, 21 Januari 2018

Jalan Kerja Mixing Paling Mudah dengan Hasil Bagus



Setiap mixing engineer pasti memiliki cara kerja masing-masing sehingga memudahkan mereka untuk bekerja mendapatkan hasil maksimal meskipun dalam waktu yang singkat. Ya benar, waktu singat dengan hasil yang bagus!

Dibandingkan bekerja asal bergerak tanpa ada pedoman untuk melangkah, lebih baik kita kerja minimalis dengan terarah dengan pengaruh yang nyata. Hasilnya jelas - lebih sedikit usaha, hemat waktu, dan hasil yang luar biasa.

Dengan sistem ini kita akan merasa lebih percaya diri dan menghasilkan mixing yang lebih bagus. Namanya adalah:

Slow Focus Mixing

Banyak orang yang memulai mixing dengan kick dan bass lalu memproses instrumen lainnya satu per satu. 

Tetapi sistem yang satu ini justru sebaliknya. Tinggalkan detail kecil seperti kick drum di akhir proses mixing.

Mulailah dengan gambaran besar - lalu dengan perlahan fokus ke detail-detail kecil sejalan dengan proses mixing. Atau dengan istilah lain:


TOP DOWN MIXING

Mulailah dengan menyeimbangkan volume dan panning. Naik-turunkan fader berdasarkan insting dan tegaslah, jangan takut salah.


Rasakan getaran dan karakter dari musik yang dibawakan. Lalu tentukan, instrumen mana yang paling penting dan harus menonjol? Track mana yang mengganggu dan perlu dibuang?

TAHAP PRA-MIXING: PERSIAPAN

Sebelum mulai cek volume setiap track (gain staging) dan aturlah project mixing yang akan digarap. Memberi nama yang singkat dan mudah diingat, memberi warna, membuat marker, termasuk hal yang harus digarap di sini.

Lalu buatlah folder bus per instrumen. Buat satu folder bus khusus bernama 'DRUMS' untuk sekian banyak track milik drum dan perkusi. Folder bus 'GUITARS' berisi semua track gitar elektrik dan akustik, dan seterusnya.


TAHAP PERTAMA: GAMBARAN BESAR

Naikkan fader mixer dan jadikan semuanya di panning ke tengah.

Putar reff akhir (yang paling rame) berulang-ulang dan mulailah menyeimbangkan volume antar track dan mematikan (mute) track yang kurang penting. Jangan ragu untuk tidak menggunakan sebuah track yang tidak berpengaruh baik kepada lagu. Tegaslah dan jangan takut.

Habiskan lebih banyak waktu dengan maksimal untuk menyeimbangkan volume. Inti dari mixing adalah pada tahap pertama ini.

TAHAP KEDUA: PROSES PADA GROUP/FOLDER BUS

Ingat, sistem ini bekerja dari gambaran besar dan terus ke bawah menuju detail yang lebih teliti...

Maka, lebih baik kita mulai dari master track, lalu folder bus, dan terakhir per track.

Ini adalah cara paling efisien yang menghemat waktu dan tenaga. Semuanya bisa beres dengan lebih sedikit plugin.

Pertama kita masukkan EQ pada master track. Hati-hati setting agak ekstrim akan merusak keseluruhan mixing kita. Cukup sentuhan ringan tapi bisa berdampak besar.

Contohnya jika lagu terasa agak bergemuruh dan tidak jelas, kita bisa memotong 2 db pada frekuensi sekitar 500-800 Hz. Agar lebih cerah kita angkat frekuensi tinggi beberapa db.


Setelah EQ selesai kita lanjut kepada compression. Terapkan beberapa db gain reduction yang ringan untuk memberi efek menyatu dan berkarakter pada lagu. Jangan terlalu keras mengkompres karena hasil mixing akan terasa seperti naik-turun dan tidak natural.

Setelah beres di master fader, lanjutkan pada folder bus lain yang membutuhkan EQ dan compressor - seperti folder drum dan gitar - dan folder lain yang membutuhkan perlakuan ekstra.

TAHAP KETIGA - EFEK PER TRACK

Beberapa instrumen butuh perlakuan istimewa. Semisal, kick yang perlu dicompress dan diatur EQ nya dengan setting khusus. Hal ini juga mencakup panning. Seperti panning tom dan Overhead. 

Terapkan semua setting khusus yang dibutuhkan pada track-track tertentu yang tidak bisa dilakukan pada folder bus. Baik itu EQ, Compression, dan panning. Jangan lupa untuk selalu mengatur ulang keseimbangan volume setelah memasang efek.

Setelah beres, atur setting khusus lead vokal (vokal utama) sebelum menginjak tahap selanjutnya.

TAHAP KEEMPAT - PERCANTIK DENGAN MAKE-UP

Sekarang saatnya membuat beberapa sentuhan makeup dan hiasan.

Automasi pada volume dan panning bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas mixing. Ini sangat vital - atur penggunaan automasi dengan mendengar mixingan mentah berulang-ulang. Tentukan mana yang harus menonjol, mana yang harus dipindah panningnya, semua tergantung seleramu!


Efek juga bisa di automasi untuk penekanan bagian lagu, memberi kesan menarik dan karakter pada lirik. Cobalah untuk mengautomasi send level pada delay di bagian akhir vokal bernada tinggi. Atau automasi efek reverb yang semakin banyak saat teriak di reff. Semuanya tergantung seleramu!

TAHAP KELIMA - SENTUHAN AKHIR

Setelah sekian lama setting efek, saatnya untuk mengambil istirahat yang agak lama. Telinga perlu di-refresh di luar ruangan mixing dan terbebas dari speaker monitor agar kembali 'normal'. Setelah istirahat, nyalakan komputer dan DAW, sebelum memutar hasil mixing yang sudah jadi, matikan layar monitor, dan tulislah daftar masalah yang terdengar dari hasil mixing-mu saat mendengarkannya.

Semisal, masalah yang ditulis 'gitar rythm terlalu kencang saat reff', atau 'kick tenggelam dalam petikan bass'. Setelah selesai diputar, perbaiki masalah-masalah tadi satu per satu. Ulangi langkah ini beberapa kali hingga merasa puas dengan hasil mixing kita. 

Untuk memudahkan dalam memahami sistem Slow Focus Mixing, tempelkan diagram ini pada tembok samping komputermu.




Sekian gambaran dari kerja sistem Slow Focus Mixing. Terus, apa kelebihannya dari cara biasa? Dengan sistem ini kita bisa mendapat hasil mixing lebih maksimal dalam waktu lebih cepat dan dengan lebih sedikit plugin. Ketika proses rekaman di awal sudah bagus, kita bisa mendapatkan hasil mixing bagus ketika memproses folder bus dan beberapa track saja. Sehingga kita tidak perlu membebani diri setting sekian banyak efek pada setiap track. Tentunya hasilnya akan lebih natural, orisinil, dan memuaskan!

Jumat, 17 November 2017

EFEK: Insert VS Auxiliary Send

Dalam mixing kita cukup fokus pada lima jenis efek: Equalizer, Compressor, Saturation, Reverb, dan Delay. Seringkali kita menggunakan efek dengan memasukkannya pada setiap track seperti biasa. Masalah muncul saat kita ingin memberi efek pada 15 track, apakah kita harus memasukkan 15 efek reverb pada 15 track satu per satu? Belum lagi efek reverbnya berat, dijamin komputer hang dalam hitungan detik.

Maka dari itu kita perlu mengenal 2 jenis efek, yaitu Insert dan Auxiliary.

Jumat, 13 Oktober 2017

Buku Recording Mixing Mastering Wajib Baca [Download]

Sementara ini untuk posting video belum bisa diupdate karena admin barusan mendapatkan musibah sehingga kurang bisa bekerja maksimal. Doain yah, admin cepet sembuh, hehehehe... Yang pasti, kali ini kita akan membahas buku referensi mixing yang pasti sangat bermanfaat buat  nambah wawasan seputar audio engineering, mixing, recording, dan lain-lain.

Buku ini kebanyakan berbahasa inggris karena memang sedikit atau bahkan belum ada penulis indonesia yang tertarik menulis dalam masalah ini. Ada sih seperti Mas Agus Hardiman pemilik sekolah audio ArtSonica. Bukunya bisa diorder di sini.

Nah langsung aja masuk ke judul-judulnya:

1. The Art of Mixing: A Visual Guide to Recording Engineering and Production [David Gibson]

 Ini adalah buku legendaris yang pertama kali membahas mixing, tepatnya tahun 1997. Di sini dijelaskan konsep mixing secara visual dengan 3 istilah: height, width, dan depth. Tentunya konsep ini bisa diterapkan di semua jenis mixin, baik analog dengan console, digital, hybrid dan dengan jenis DAW dan plugin apapun. Kalau males baca ada juga versi videonya di bawah ini.


2.  Mixing Secrets for The Small Studio [Mike Senior]

Ditulis oleh wartawan senior majalah audio terkenal Sound on Sound's Magazine, menjadikan buku ini salah satu best seller dalam dunia mixing sekalipun baru dirilis tahun 2011. Mike Senior berusaha keras untuk mewancarai lebih dari 20 audio engineer ternama sekelas Tony Maserati, Dave Pensado, dan Chuck Ainlay. Darinya didapatlah trik dan sudut pandang konsep mixing secara umum. Uniknya penyajiannya dikemas untuk kebutuhan home studio. Dengan bahasa yang lugas dan mendetail kita bisa memahaminya tanpa peru lulus TOEFL terlebih dahulu.

3. The Mixing Engineer's Handbook 4th Edition [Bobby Owsinski]

Hampir mirip dengan Mike Senior, Bobby Wosinski merupakan penulis audio yang cukup aktif berkarya. Pendekatannya pun sama, mewancarai banyak mixing engineer dengan topik kontroversial yang serupa. Uniknya, di setiap revisi jumlah interview semakin banyak, lebih dari 40 tokoh (!), dan semakin banyak hal baru yang diungkap. Bahasanya pun sederhana dan tepat sasaran.

4. The Recording Engineer's Handbook 4th Edition [Bobby Owsinski]

Masih dengan penulis yang sama, kita diajak mengenal jenis microphone beserta dengan karakter dan merek legendaris yang sudah teruji. Teknik merekam per instrumen pun dibahas dengan detail, dari miking vokal, drum, gitar amp, sampai perkusi dan instrumen orkestra. Dan pastinya ditutup dengan interview dari engineer terkenal yang bermurah hati membagikan tipsnya dalam recording.

4. The Mastering Engineer's Handbook 4th Edition [Bobby Owsinski]

 Mastering merupakan proses krusial yang tidak sembarang orang mampu melakukannya dengan alat seadanya. Studio berkualitas dibarengi dengan SDM yang mumpuni mutlak dibutuhkan dalam proses final ini. Tapi Bobby sekali lagi mampu menjelaskannya dengan gamblang sehingga kita pun bisa melakukan mastering sendiri di rumah.

5. Modern Recording Techniques 7th Edition [David Miles]

Buku komprehensif dalam masalah teknik merekam audio berkualitas tinggi yang sangat sarat dengan tips dan trik untuk home studio. Tidak hanya audio, namun juga meliputi record MIDI dan sampling secara modern. Wajib dibaca untuk mendapatkan audio mentah yang prima.
Download pdf klik di sini. 



6. Mixing Audio: Concepts, Practice, and Tools [Roey Izhaki]

Buku praktis dalam dunia mixing yang menjawab semua problem fixing saat audio processing. Semua dicover dengan singkat dan sederhana sehingga sangat mudah dipahami meskipun oleh pemula dalam dunia mixing. Tepat bagi setiap pemilik home studio.
Download pdf klik di sini. 



7. Music Theory for Computer Musicians [Michael Hewitt]

Sekarang ini banyak musisi hanya dengan bermodalkan laptop bisa menghasilkan track profesional. Untuk mencapainya diperlukan pendekatan komputasi yang perlu dikuasai. Mode digital tentunya memiliki metode yang sangat berbeda dengan rekaman analog. Buku ini mengupasnya dengan tuntas tanpa meninggalkan setitik pun.
Download pdf klik di sini. 

8. Mastering Audio: the art and the science [Bob Katz]

Bob Katz, mastering engineer legendaris membagikan rahasia dari mastering baik dari segi seni yang tidak terukur maupun dari segi teknikal yang sarat dengan pakem dan aturan teknis. Buku ini merupakan hasil dari jumlah pengalaman dan penerapan yang didapatnya selama bertahun-tahun menangani mastering beragam rekaman legendaris.
Download pdf klik di sini. 

Sebagai bonus, Bob Katz membagikan resep rahasianyayang manjur dalam mastering dengan bentuk buku tipis yang sangat ringkas dengan judul The Secret of the Mastering Engineer.
Download pdf klik di sini. 









Itulah sekilas beberapa buku yang layak dibaca untuk menambah wawasan audio engineering kita. Sebenarnya masih banyak buku mixing lain yang tentunya akan kita bagikan di kesempatan mendatang. Tapi yang pasti, untuk maju kita tidak cukup dengan banyak berteori. Semuanya akan menjadi lebih paham dan bermanfaat dengan memperbanyak PRAKTEK mixing.
HAPPY READING....!