Senin, 17 September 2018

Perfect Drums: Drummer Siap Pakai (REVIEW)

Dari sekian banyak penghalang seseorang berkarya dalam Home Recording adalah Drum. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan suara drum yang berkualitas dia harus menyiapkan drumkit beserta mic di setiap bagiannya. Belum lagi mencari ruang yang bagus gemanya untuk mendapatkan Room. Ada juga masalah phase yang tabrakan dan seabrek masalah lainnya.

Maka, solusi cepatnya adalah DRUM PROGRAMMING. Sayangnya dari sekian banyak software Drum MIDI yang ada ternyata tidak menjamin suaranya langsung bagus. Ada yang menyediakan library file bergiga-giga tetapi perlu di mixing sendiri yang tentunya membutuhkan pemahaman EQ dan Compressor (*uhuk* Superriorr.. Drummer..*uhuk*). Jelas itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. 

Namun tenang saja, Naughty Seal Audio merupakan pendatang baru namun menyuguhkan sebuah solusi instan bernama PERFECT DRUM. Memang apa untungnya? Poin utamanya adalah kita bisa membuat Drum track dengan cepat dan kualitas yang memuaskan! Hanya itu saja? Ada lagi, program ini memungkinkan kita untuk melakukan layering sample drum kit. 


Layering Sample??? Apa itu?? Gampangannya, membuat suara drum khas kita sendiri dengan cara menumpuk suara drum yang ada dengan sample/potongan suara drum kit koleksi kita pribadi. Jadi andaikan kita ingin membuat suara kick yang berbeda kita bisa menumpuk kick dari plugin ini dengan suara kick drum yang pernah kita rekam. Hasilnya akan menjadi sangat unik. Kita bisa menumpuk semua macam kit dengan layer tak terbatas! Puas lah...


Uniknya lagi, drum ini juga memiliki fitur Parallel FX Processing. Intinya, dengan knob ini semakin ke kiri itu suaranya semakin mentah alias apa adanya tanpa efek, kalau diputar ke kanan akan semakin terpoles dengan EQ dan Compressor analog. Jadi semakin banyak lagi variasi suara yang dihasilkan.


Tersedia 13 kick, 12 snare drums, 29 toms (8 full sets), 9 hi-hats, 11 cymbal ride, 31 crash cymbal dengan 4 posisi berbeda, 13 china cymbal (5 di kiri dan 8 di kanan), 8 splash cymbals, 2 stack cymbals, 2 bel and dan 1 jamblock yang terakit dalam 12 kit siap pakai.

Menarik sih, tapi bagaimana nasib MIDI yang sudah dibuat dengan drum MIDI lain seperti EZDrummer atau Addictive? Tenang saja, sudah tersedia Mapping MIDI plugin Drum terkenal dari Addictive, Superior, EZDrummer, BFD, hingga Abbey Road KONTAKT. Jadi jika sudah ada yang kita buat tinggal drag dan ganti mapping, beres!

Semua itu tersedia hanya dengan harga USD 150. Murah banget! Apalagi sekali membeli, kita akan mendapatkan update-update selanjutnya dengan gratis seumur hidup. Kurang apa coba? Belum ada duit? Atau mau nyoba dulu? Admin sediain versi pak tani di link ini (pass: unstoppabble88) di nomor 44. Silahkan dicoba, dengarkan suaranya di bawah, kalau sreg langsung beli deh!

PREVIEW SUARA



DAFTAR KIT


Rabu, 29 Agustus 2018

Cara mixing Live Show


Mixing Live Show tentunya tidak bisa dimulai jika kita belum bisa mengeset peralatan yang dibutuhkan untuk menghandle acara live show.

Pertama kita harus memastikan alat-alat berikut terpasang dengan sempurna:
  1. Snake Input dari Panggung
  2. Mixer Digital/Analog
  3. Graphic EQ
  4. Crossover
  5. Power Amp
  6. Speaker utama FOH
  7. Speaker Monitor Panggung

Setelah beres masalah teknis, pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan tuning audio system sehingga mengurangi feedback yang mungkin akan terdengar ketika acara berlangsung. 

CARA TUNING AUDIO SYSTEM adalah seperti berikut ini:
  1. Pastikan semua channel termasuk master dalam posisi gain dan volume fader ditutup
  2. Buka channel master ke posisi normal atau 0
  3. Buka satu channel mic vocal yang kamu pegang dengan posisi fader +5. 
  4. Perlahan buka gain nya hingga suara bisa terdengar di speaker utama dengan normal, tidak terlalu pelan, atau terlalu kencang
NAH SELANJUTNYA ADALAH TEST FEEDBACK (RING-OUT).
  1. Tutup kepala mic dengan telapak tangan, sehingga mulai mendengung menghasilkan suara feedback. 
  2. Cari frekuensi feedback nya dengan Graphic Equalizer lalu turunkan ke bawah 
Jika menggunakan equalizer digital, frekuensi feedback bisa terlihat jelas sehingga bisa di-cut dengan tepat. Tetapi jika menggunakan graphic equalizer tanpa frequency spectrum, maka harus dicoba per frekuensi dengan menaikkan beberapa fader hingga feedback terasa lebih kencang. Jika ketemu, maka diturunkan ke bawah.

Setelah itu, coba gunakan suara rendah dan carilah frekuensi yang membuat suara seperti orang pilek, itu adalah frekuensi muddy. Biasanya sekitar 100-300Hz, turunkan ke bawah.\

Test selanjutnya adalah bunyikan suara S di mic, cari frekuensi yang nyelekit di daerah hi-mid dan hi. Dimana jika dinaikkan terasa lebih menyakitkan telinga. Biasanya sekitar 5Khz ke atas. Turunkan ke bawah.

GAIN SETTING

Sebelum cek sound pastikan semua line input dari mic dan instrumen sudah masuk dengan sempurna dan pastikan:
  1. Instrumen musik atau musik dalam kondisi bagus
  2. Kabel audio jack yang digunakan tidak bermasalah (noise, solderan kurang kuat, putus-putus, dan sebagainya)
Lalu bunyikan semua Mic dan Instrumen, dalam kondisi volume fader masih di bawah, bukalah gain knobnya sedikit demi sedikit hingga mencapai pada level sweet spot, meternya berwarna hijau dan tidak clipping.
GAIN # VOLUME
Ingat gain tidak sama dengan volume. Volume tentunya mengatur keras-pelannya channel di speaker utama. Sementara itu, gain dapat diartikan sebagai Mic Sensitivity, tingkat kesensitifan mic yang digunakan. Semakin besar gainnya, mic menjadi semakin sensitif sehingga semakin mudah menjadi feedback.

CEK SOUND

Waktunya cek sound! Ingat cek sound adalah pekerjaan yang melibatkan orang banyak maka pastikan semua orang HADIR TEPAT WAKTU saat cek sound dan dipimpin SATU KOMANDO saat cek sound. Sehingga bisa efektif waktu dan bisa fokus mendapatkan hasil maksimal.

Cek sound dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Jangan rubah gain apapun setelah di setting sebelumnya, kecuali jika memang benar-benar perlu diatur ulang.
  2. Biasanya cek sound  dimulai dari instrumen perkusi/drum/ketipung dilanjutkan ke bass, gitar, keyboard, dan terakhir vocal
  3. Naikkan fader volume pelan-pelan hingga mendapatkan level yang pas. Jika dirasa perlu merubah karakter suaranya (kurang-ngebas, terlalu ngencring) maka gunakan EQ untuk mendapatkan suara yang diinginkan
  4. Gunakan EQ dengan lebih banyak menge-cut frekuensi, bukan menambah. Ini untuk menghindari feedback dan beban berlebihan yang ditanggung speaker sub maupun twitter.
  5. Lanjutkan ke semua channel hingga selesai. setelah itu semua instrumen dimainkan dengan membawakan lagu yang diulang-diulang. Saat itulah balancing antar instrumen hingga di dapat paduan komposisi yang pas dan menyatu.
  6. Giliran vocal masuk, pastikan vocal menjadi the king of show. Artinya level vocal harus di atas semua instrumen namun tetap menyatu.
IT'S SHOW TIME!

Saat show time, pastikan operator mixer tetap siaga mengamati dinamika permainan di atas panggung. The king of the show harus ditonjolkan pada saat yang tepat. Jika ada melodi gitar, contohnya, maka level gitar agak diangkat sedikit, dan diturunkan lagi setelahnya. Begitu juga melodi dari seruling, keyboard, dan lain sebagainya. 

Selain itu, perlu fokus juga ke penambahan efek jika dibutuhkan, seperti tap delay pada teriakan vocal di akhir lagu, dan seterusnya. Itu kembali ke kreativitas masing-masing.

MASALAH SAAT SHOW TIME

FEEDBACK
Feedback terjadi karena tuning yang belum beres di awal, tentunya hal ini perlu dicegah dengan benar-benar mengecek frekuensi feedback dan memotongnya. Jika ternyata terjadi di tengah penampilan, gunakan EQ dari mic yang digunakan dan tentunya terpaksa gain harus selalu dimainkan.

MIC/INSTRUMEN TIDAK MENYALA
Channel yang tidak menyala terjadi karena 2 hal utama:
  1. Instrumen bermasalah
  2. Koneksi antara instrumen ke mixer yang bermasalah
Maka pastikan sebelum pertunjukan hal-hal berikut ini:
  • Apakah baterai DI BOX, efek, dan perangkat wireles sudah diganti baru?
  • Apakah dudukan baterai longgar sehingga wireless set tidak mau menyala?
  • Mungkinkah solderan jack gitar jelek sehingga tidak menyala jika tidak disenggol?
  • Sudahkah tombol ON DI BOX ditekan?
  • Apakah knob volume keyboard tertutup nol?
  • Apakah adaptor sering mati-hidup dan perlu diganti?
  • Mungkinkah channel snake yang digunakan bermasalah?
  • Dan seterusnya...
Ingat! Saat show time, jangan ada channel yang diubah gain setting maupun volumenya. Mute channel tersebut, bereskan masalah yang ditemukan dan nyalakan kembali.

AKHIR KATA...

Mixing live show adalah pekerjaan yang membutuhkan 3 aspek:
ART (seni), SCIENCE (teknis), dan CUSTOMER SERVICE (layanan)
Yang terakhir ini memang perlu dilatih dengan penuh kesabaran. Bagaimana kita merespon semprotan marah dari orang panggung dengan kepala dingin dan pikiran yang tetap fokus. Respon dengan anggukan dan senyum simpul. Tidak perlu dibawa hati, jalani semua, dan gunakan telinga serta instingmu untuk bergerak cepat......!


Sumber 1

Kamis, 14 Juni 2018

Mengenal Pedal Efek Gitar

Pedal Efek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentuk ciri khas seorang gitaris. Maka untuk mendapatkan tone yang diinginkan seorang musisi atau produser harus memahami apa peran dan fungsi dari setiap jenis pedal yang digunakan. Setiap pedal memiliki fungsi berbeda yang tentunya akan berlainan efeknya jika urutan penempatannya diubah. Maka ga usah terlalu banyak dibayangkan, langsung menuju TKP!

Rabu, 13 Juni 2018

Tips Mendapatkan Tone Gitar yang Tepat

Berulangkali kita dapatkan lagu yang keren tapi terasa hambar hanya karena gitarnya terdengar menyayat telinga, sama sekali tidak nyaman di dengar! Ada juga tone gitar yang bagus tapi terasa kurang 'nendang'. Atau mungkin clean yang indah tetapi tidak bisa penuh mengisi kebutuhan lagu, seperti ada yang kurang..

Masalah di atas sering ditemui dalam studio rekaman jika gitaris tidak bisa meracik sendiri tone gitar yang tepat untuk kebutuhan lagu. Maka kali ini kita akan membahas hal itu demi mendapatkan hasil mixing yang maksimal!

Selasa, 12 Juni 2018

Speaker Monitor DS5A: Murah, Bukan Murahan! (REVIEW)

Lama tidak posting ya. Hehehehe.. Kali ini mimin mau review mainan baru di Grenada Studio: Speaker Monitor DS5A.

Gear Review ini merupakan serial baru dari mimin untuk mengenalkan tools mixing baik software maupun hardware yang SUDAH pernah mimin gunakan saat mixing. Review ini sama sekali tidak disponsori pihak manapun, murni dari telinga dan hati nurani (bahahaha). Tapi kalau ada yang mau promote, mimin terima kok. 😏

Oke, cerita dulu yak.. Ini speaker pribadi mimin yang pertama kali kenal dari ZealMusik sama blog-nya mas Cahya. Awalnya sih cuek aja, karena sudah ada si putih YAMAHA HS-5 milik Grenada Studio. Tapi ketika ada momen terpikir untuk beli speaker buat studio pribadi, barulah otak berputar dan AHA! Teringatlah dengan speaker ini.

Speaker ini saya dengar pertama kali di showroom ZealMusik Jogja. Kesannya sih awalnya biasa aja. Karena belum mengaktifkan mode "Critical Listening". Hehehehe.. Kampus 3 pun menggunakannya di bawah naungan Mas Jaka. Tapi setelah melihat beberapa review dan sempat mendengarnya langsung, dengan mantap saya pesan langsung via Tokopedia di lapak Apregio Musik Surabaya dengan harga 1,75 juta (Mei 2018).

By the way, ni speaker rakitan China yang serumpun dengan merek ISK yang terkenal sebagai gear kere hore buat home studio. Kalau menurut blog resminya sih, frequency response-nya hampir flat, alias benar-benar jujur (lihat gambar di bawah). Tapi, tetap saja, hearing is believing. Dengan mendengar langsung baru bisa percaya.
Frequency Response DS5a (versi situs resminya)

Review Eksterior

Begitu sampai, paketnya terasa ringan. Speaker ini bercasing kayu dan terasa jauh lebih ringan dibanding speaker luar negeri seperti Yamaha, KRK, dll. Hanya 9 kg satu pasang! Powernya pun hanya satu, di speaker kiri yang memiliki LED biru di depan. Speaker kanan dihubungkan lewat kabel output biasa untuk mentransfer power dan data audio dari speaker kiri. Jadi, lebih simpel ya. Tombol power cukup satu di kiri. Gak perlu lagi cetek kanan - cetek kiri seperti Yamaha. Rivet!! 😓

Inputnya ada dua macam: TRS dan RCA. RCA ini menggunakan satu kabel stereo yang bisa kita colokkan ke output headphone. Sementara TRS adalah 2 input kabel jack 1/4" biasa (kabel PA untuk gitar dan keyboard) yang harus dihubungkan sesuai L dan R output dari soundcard. Pakainya salah satu aja, ga perlu dua-duanya. Bisa jebol nanti gara-gara overload. Hehehehe....

Di belakang juga kontrol tone speakernya sangat simpel: hanya Volume! Tidak ada room control, bass response, treble dan lain sebagainya. Untuk amannya, arahkan tombol volume ke mode netral, posisi angka 12. Standar lah yaa..

Karakter Speaker

Nah, kita masuk ke pembahasan intinya nih: bagaimana kualitas suara yang dihasilkan???
Di sini saya menggunakan sistem A/B Comparison antara DS5A dengan Yamaha HS-5 milik studio. Routing master output saya pecah jadi dua ke masing-masing speaker, lalu saya Solo bergantian. Setelah saya gain-matching (menyamakan volume output) dan dengarkan bolak-balik, saya terkejut dengan hasilnya! Ini speaker kere tapi kualitasnya gile!

Pandangan pertama saya menyimpulkan high-end alias treble speaker ini memang lebih tinggi ketimbang HS-5. Otomatis telinga langsung ambil kesimpulan: bassnya kalah sama HS-5. Tapi setelah saya solo low-end nya lewat multi band compressor, ternyata tidak ada beda! Dari situ saya mulai introspeksi telinga. Wakakakak..

cek low end pake solo multiband
Saya mengambil lagu referensi band favorit sepanjang masa: Dream Theater dengan lagu Forsaken. Langsung masuk reff, diputar loop, dan... Baru sekali pindah speaker saya lebih terkejut lagi. DS5A memiliki mid-range definition/clarity yang sangat detail dan jelas, jauh di atas HS-5! Vokal sangat terasa lebih menonjol, instrumentasi ritem gitar yang super tebal terdengar lebih galak. Dengan kata lain, separasi antar instrumen sangat mudah dirasakan. Lalu, apa keuntungannya? 

Jelas untung! Saat EQ, saya merasa lebih mudah untuk berkonsentrasi ke instrumen yang saya ulik. Pergesaran EQ pun lebih mudah terdeteksi dan terasa efeknya, Sehingga memudahkan kita untuk membagi ruang frekuensi antar instrumen yang sering bertabrakan, terutama bagian mid-range: antara 2k - 4k.


Kalau meminjam istilah Paul Mike Stavrou, hardness/firmness speaker ini lebih nendang dibanding speaker Yamaha HS-5. Perbandingannya, skor 7 sama skor 5 lah. Jadi saya merasa sangat sesuai dengannya. Karena sekian banyak mixingan saya banyak dikritik oleh senior saya (seperti Suhu Hasan Muttaqin, hehehe..), terasa terlalu nendang dan keras, cenderung berkarakter metal. Sehingga untuk mengimbanginya agar menjadi tidak melulu keras, saya perlu hijrah ke speaker berkarakter cadas juga seperti DS5A ini. Jadi nanti lebih soft-soft empuk gitu. 🤔

Meskipun saya melihat banyak keunggulan, tapi tetap saja setiap monitor memiliki karakter masing-masing yang tentunya bisa bermanfaat dalam berbagai kondisi. Maka tidak heran di studio profesional banyak kita temui yang menggunakan dual monitor bahkan sampai 4 pasang monitor! Umumnya sih: satu speaker mono di tengah, dua pasang nearfield-monitor di sekitar mixer, dan sepasang speaker dinding di belakang mixer! Itu gunanya tentu untuk mengecek translation hasil mixing sehingga terdengar maksimal di segala jenis speaker apapun.

Multi Monitoring di AIR Studios London

Tips: Kenalan dengan Speaker

Speaker apapun bagusnya tidak akan menghasilkan potensi maksimal kalau kita belum berkenalan sebelum menggunakannya. Kenalan di sini tentunya dengan memutar hasil mixing kualitas profesional yang sudah kita kenal baik warna suaranya. Sehingga dengan cepat kita bisa menilai karakter dari speaker. Dari interview sekian banyak mixing engineer, banyak yang menyarankan tidak langsung memulai mixing saat bekerja di studio yang baru ditemui, tentunya perlu masa perkenalan ini. 

Seberapa lama dan seberapa banyak lagu kenalannya? Itu sangat subjektif. Bisa jadi 5 lagu, 1 jam, bahkan mungkin saja 3 hari kita putar sekian banyak album baru kita merasa kenal. Cukup ikuti suara hati aja.. Wakakakakk

Sekian dulu gaes, kalau ada pertanyaan, sangkalan, protes, atau nagih hutang sekalian, silahkan sampaikan di komentar bawah ini. Seeya!

Glossary:
  • translation: kemampuan sebuah lagu untuk bisa dinikmati dengan maksimal di semua jenis speaker
  • near-field monitor: jenis speaker yang biasa dipakai dengan jarak dekat seperti pada umumnya home recording studio
  • high-end: Frekuensi tinggi dari audio (>6 KHz)
  • low-end: Frekuensi rendah dari audio (<1 KHz)
  • mid-range: Frekuensi pertengahan dari audio (1 - 4 KHz)