Minggu, 10 Maret 2019

Kuasai Mixing dengan EQ

Equalizer adalah alat yang wajib dikuasai oleh seorang mixing engineer. Tanpa menguasainya, sangat sulit mendapatkan hasil mixing yang balance dan bisa dinikmati di speaker manapun.

Kalau kita amati lebih dalam equalizer itu adalah volume pintar yang bisa mengubah volume suatu track pada area frekuensi tertentu. Sejarahnya, dulu equalizer adalah slider volume per frekuensi seperti gambar di bawah. Tentunya sangat terbatas sehingga tidak bisa mengubah frekuensi dan lebar pengaruh EQ nya. Jenis ini disebut Graphic Equalizer.
Pembagian frekuensi pada dasarnya dibagi menjadi 3: Low, Mid, dan Hi. Namun lebih lengkapnya lagi Mid dibagi menjadi 2 lagi: Low-Mid dan Hi-Mid. Sehingga total terdapat 5 rentang frekuensi.

Seorang mixing engineer yang bagus bisa menganalisa sebuah suara dan melakukan koreksi EQ saat dibutuhkan. Kapan low perlu ditambah, mid perlu dipotong, hi perlu di-filter dan seterusnya.


Adapun teknik penggunaan EQ secara umum adalah sebagai berikut:
  1. Menaikkan/menurunkan Gain hingga beberapa desibel.
  2. Geser slider frekuensi sehingga ditemukan titik-titik yang bagus ditambah/dikurangi.
  3. Atur bandwidth/lebar area EQ yang digunakan sesuai kebutuhan. Untuk mendapatkan hasil natural, rumusnya adalah: gunakan bandwidth sempit untuk cut, lalu gunakan bandwidth lebar untuk boost.
  4. Ubah jenis EQ sesuai kebutuhan mixing (kotak hijau gambar di atas).
Jenis EQ ada beberapa macam. Tapi yang paling penting ada 3 kategori: Filtering, Shelving, dan Parametric Band.

1. Filtering

Filtering merupakan fitur paling simpel yang terdiri dari dua macam: High-Pass dan Low-Pass. Atau dengan nama Low-Pass dan High-Cut.

Fungsinya membuang habis suatu area frekuensi. Kalau Hi-Pass atau Low-Cut dia memotong habis frekuensi suara di bawah poin yang ditentukan. Sementara Low-Pass atau Hi-Cut memungkinkan kita untuk membuang habis informasi frekuensi tinggi pada sebuah suara.

2. Shelving

Teknik ini mirip dengan filter tapi dia lebih natural dan tidak agresif seperti filter. Kerjanya juga tidak hanya memotong alias Cut tapi juga bisa mengangkat dan menambah alias boost.


Low-Shelf contohnya, kalau di booost artinya frekuensi di bawah titik EQ sampai nol Hz akan diangkat volumenya. Sebaliknya kalau Low-Shelf Cut artinya frekuensi di bawah titik EQ sampai nol akan dipotong sesuai dengan setting yang kita tentukan, tidak sampai benar-benar habis. Artinya kita masih bisa mendengar frekuensi rendah secara samar-samar. Hal yang sama juga diterapkan pada High-Shelf. Bedanya yang di-cut atau di-boost adalah frekuensi di atas titik EQ yang ditentukan hingga batas frekuensi tertinggi 20KHz.

3. Parametric Band

Seperti kita tahu sejarahnya Eq hanyalah volume slider di frekuensi tertentu. Artinya kita mengubah nilai; (1) Frekuensi dan (2) Volume. Akan tetapi inovasi dilakukan oleh bapak EQ modern (George Massenburg, gambar di bawah) dengan menambah satu nilai lagi: (3) Bandwidth. Simpelnya bandwidth itu adalah nilai yang menentukan seberapa luas area yang terkena EQ menimpa frekuensi sekelilingnya, apakah menyempit atau meluas. Jika nilainya sempit, maka efeknya akan terasa sangat jelas. Tapi jika meluas maka efeknya akan terasa tipis dan natural. Seperti grafik di atas, dimana cut yang dilakukan lebih sempit bandwidth nya dibandingkan dengan boost di sebelah kanannya yang lebih lebar.
George Massenburg, Bapak EQ Modern: pencipta bandwidth dalam parametric EQ
Nah itu semua baru pengenalan bersifat teknis, selanjutnya akan kita kenali cara menggunakannya secara feeling dan balance.

Tips menggunakan EQ:

  1. Lakukan low-cut di semua track kecuali kick dan gitar bass.
  2. Gunakan high-Shelf untuk menambah frekuensi tinggi pada vokal agar terasa lebih jelas.
  3. Potong frekuensi 'mendem' atau 'kardus' di vokal yang banyak berkumpul di daerah low-mid (400-1KHz) jika diperlukan, tapi awas jangan berlebihan.
  4. Boost frekuensi high-mid (1-4 KHz) pada vokal untuk membantunya tampil menonjol di antara tumpukan instrumen yabg mengiringinya.
  5. Tempatkan EQ yang digunakan untuk koreksi di awal urutan FX. Dan taruh EQ yang digunakan untuk memoles di urutan akhir.
  6. Setiap EQ memiliki cara yang berbeda-beda dalam penggunaannya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pelajari manual dan video contoh penggunaannya dari review ataupun tutorial di Youtube.
  7. Gunakan graphic EQ untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dengan visualisasi yang bagus dan hasil yang instan. Contoh graphic EQ yang bagus adalah Fabfilter Pro-Q2.
PRO TIPS: Masing-masing EQ memiliki karakter berbeda-beda. Gunakan model EQ berbeda untuk tujuan yang berbeda pula untuk mendapatkan separasi antar instrumen dan clarity plus karakter. Contoh: SSL untuk cut dan Neve 73 untuk boost. Atau API EQ untuk gitar dan Pultec EQ untuk vokal.Tentunya ini butuh sering latihan mixing sehingga bisa mengenal sifat dan kelakuan EQ untuk digunakan pada saat yang tepat.

Kalau ingin tahu cara penggunaan EQ di setiap jenis track, seperti vokal, drum, bass, gitar, baca postingan mengenal Equalizer ini.

Nantikan kelanjutan seri EQ di posting selanjutnya!

Kamis, 27 September 2018

Dua Tujuan Utama Mixing

Saat mixing sebuah lagu, kita sering mendapati terasa seperti tersesat tidak tahu arah kemana jadinya hasil mixing yang kita inginkan. Padahal, kalau kita runtut tujuan utama mixing itu hanyalah 2: BALANCE dan EMOTION. Mau tahu lebih lanjut, baca terus gaes....

BALANCE

BALANCE artinya seimbang, stabil, tidak ada yang berlebihan maupun kekurangan. Jika hasil mixing kita sudah balance, maka dijamin kualitas lagu kita mampu bersaing dengan band papan atas sekelas NOAH sekalipun. BALANCE ini mencakup 3 hal: 
  1. VOLUME
  2. FREKUENSI
  3. DINAMIKA TRACK
Balance ini merupakan sisi objektif yang wajib dikuasai oleh mixing engineer manapun. Karena objektif kita bisa memanfaatkan plugin analyzer untuk membantu menganalisa balance dari proses mixing kita. Di antara plugin yang bisa digunakan untuk menganalisa adalah Spectrum analyzer dan Metering plugin.

Frequency Spectrum Analyzer

VOXENGO SPAN Plus: andalan para mixing engineer profesional dalam menganalisa balance
Plugin Spectrum Analyzer ini berguna untuk melihat persebaran frekuensi dari hasil mixing kita. Andalan admin adalah VOXENGO SPAN Plus. Kehebatan plugin ini adalah kita bisa monitor penyebaran frekuensi lebih dari satu track dengan warna berbeda (lihat gambar di atas). Ini sangat berguna saat mixing 2 instrumen yang sering bertabrakan seperti bass dan kick drum.

Plugin sejenis yang lebih mudah penggunaannya adalah Tonal Balance Control bawaan iZotope. Keunggulan plugin ini adalah kita diberi garis panduan hasil mixing yang ideal (lihat area warna biru laut). Garis panduan itu adalah hasil penelitian dari ratusan lagu-lagu hits dari zaman klasik hingga modern. Kita tinggal menaruh efek ini di master track, jika terlihat keluar jalur area ideal itu kita tinggal tweak dan edit EQ dan volume per track yang bersangkutan.


Metering Plugin

Untuk plugin metering admin mengandalkan dua plugin: VUMT Deluxe dari Klanghelm dan Youlean Loudness Metering. VUMT Deluxe berguna untuk melihat dinamika mixing dengan VU meter yang dikalibrasi ke -18 dbFS sehingga didapat hasil optimal dan lebih analog. Sementara Youlean Loudness Metering berguna untuk menganalisa dinamika mixing dengan grafik dan LUFS.


VUMT Deluxe dari Klanghelm: VU meter multi fungsi


Sangat kaya fitur dan GRATIS!

CARA MEMPEROLEH BALANCE

Balance ini kita peroleh dengan menggunakan 3 alat utama: Volume Fader, EQ, dan Compressor.

Penggunaan Volume Fader sangatlah mudah. Namun perlu diingat ini adalah tempat Balance utama yang harus tercapai. Caranya adalah kita angkat elemen utama dalam mixing dahulu seperti drum, vokal, dan bass. Baru kita tambahkan elemen lain-lainnya hingga terasa pas. Jangan lupa vokal harus mendominasi dan menjadi "raja".

Sementara untuk mencapai hasil maksimal dari EQ, kita perlu menggunakan Referensi Track. Maksudnya kita harus mengambil break sejenak setelah mendapat balance volume untuk mendengarkan lagu lain hasil mixing profesional dari mp3 player biasa. Dengarkan frekuensinya pada low, mid-range dan high. Tentu kita akan mendapatkan gambaran balance yang berbeda. Sesuaikan volume dan EQ hingga benar-benar pas di telinga. 

Adapun penggunaan compresssion tentunya jelas: membuat track lebih konsisten, tidak terlalu pelan jika memang berbisik dan tidak terlalu kencang saat teriak (track vocal).

EMOTION

Emosi merupakan tujuan utama kedua saat kita mixing. Artinya kita harus bisa menonjolkan emosi dari lagu dengan berbagai teknik mixing yang kita punya. Emosi merupakan sisi subjektif dari proses mixing. Di sinilah yang membedakan kualitas dan ciri khas antara satu mixing engineer dengan yang lainnya. Proses ini juga menjadikan sebuah mixing yang "bagus" menjadi "LUAR BIASA". 

Teknik memperoleh emosi sebuah lagu adalah dengan memanfaatkan Automation dan penggunaan efek-efek tambahan seperti delay, distorsi, dan sebagainya.

CONTOH PENGGUNAAN EFEK KHUSUS DALAM MIXING

  1. Mengangkat sedikit volume drum di saat reff sehingga terasa benar-benar klimaks
  2. Menjadikan gitar ritem mono saat verse, lalu melebar menjadi stereo saat Reff
  3. Menambah phaser/flanger pada master track di bagian bridge lagu (efek andalan lagu-lagu Melly Goeslaw, dengarkan bagian reff vokal cewek lagu "Pecinta Wanita" dari Irwansyah)
  4. Memberi distorsi pada vokal saat menjelang reff
  5. Memberi delay di akhir melodi outro
  6. Menambah reverse cymbal yang dipanning dari kanan ke kiri sebelum reff
Itulah sebagian tips-tips dari penggunaan efek untuk membuat mixing menjadi lebih menarik. Maka di sinilah tempat kreatif kita bisa berkreasi dan berinovasi dengan berbagai macam teknik agar emosi lagu bisa didapat. Tapi, perlu diingat: Permainan efek kreatif ini HANYA dilakukan setelah didapat mixing yang BALANCE.

Senin, 17 September 2018

Perfect Drums: Drummer Siap Pakai (REVIEW)

Dari sekian banyak penghalang seseorang berkarya dalam Home Recording adalah Drum. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan suara drum yang berkualitas dia harus menyiapkan drumkit beserta mic di setiap bagiannya. Belum lagi mencari ruang yang bagus gemanya untuk mendapatkan Room. Ada juga masalah phase yang tabrakan dan seabrek masalah lainnya.

Maka, solusi cepatnya adalah DRUM PROGRAMMING. Sayangnya dari sekian banyak software Drum MIDI yang ada ternyata tidak menjamin suaranya langsung bagus. Ada yang menyediakan library file bergiga-giga tetapi perlu di mixing sendiri yang tentunya membutuhkan pemahaman EQ dan Compressor (*uhuk* Superriorr.. Drummer..*uhuk*). Jelas itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. 

Namun tenang saja, Naughty Seal Audio merupakan pendatang baru namun menyuguhkan sebuah solusi instan bernama PERFECT DRUM. Memang apa untungnya? Poin utamanya adalah kita bisa membuat Drum track dengan cepat dan kualitas yang memuaskan! Hanya itu saja? Ada lagi, program ini memungkinkan kita untuk melakukan layering sample drum kit. 


Layering Sample??? Apa itu?? Gampangannya, membuat suara drum khas kita sendiri dengan cara menumpuk suara drum yang ada dengan sample/potongan suara drum kit koleksi kita pribadi. Jadi andaikan kita ingin membuat suara kick yang berbeda kita bisa menumpuk kick dari plugin ini dengan suara kick drum yang pernah kita rekam. Hasilnya akan menjadi sangat unik. Kita bisa menumpuk semua macam kit dengan layer tak terbatas! Puas lah...


Uniknya lagi, drum ini juga memiliki fitur Parallel FX Processing. Intinya, dengan knob ini semakin ke kiri itu suaranya semakin mentah alias apa adanya tanpa efek, kalau diputar ke kanan akan semakin terpoles dengan EQ dan Compressor analog. Jadi semakin banyak lagi variasi suara yang dihasilkan.


Tersedia 13 kick, 12 snare drums, 29 toms (8 full sets), 9 hi-hats, 11 cymbal ride, 31 crash cymbal dengan 4 posisi berbeda, 13 china cymbal (5 di kiri dan 8 di kanan), 8 splash cymbals, 2 stack cymbals, 2 bel and dan 1 jamblock yang terakit dalam 12 kit siap pakai.

Menarik sih, tapi bagaimana nasib MIDI yang sudah dibuat dengan drum MIDI lain seperti EZDrummer atau Addictive? Tenang saja, sudah tersedia Mapping MIDI plugin Drum terkenal dari Addictive, Superior, EZDrummer, BFD, hingga Abbey Road KONTAKT. Jadi jika sudah ada yang kita buat tinggal drag dan ganti mapping, beres!

Semua itu tersedia hanya dengan harga USD 150. Murah banget! Apalagi sekali membeli, kita akan mendapatkan update-update selanjutnya dengan gratis seumur hidup. Kurang apa coba? Belum ada duit? Atau mau nyoba dulu? Admin sediain versi pak tani di link ini (pass: unstoppabble88) di nomor 44. Silahkan dicoba, dengarkan suaranya di bawah, kalau sreg langsung beli deh!

PREVIEW SUARA



DAFTAR KIT


Rabu, 29 Agustus 2018

Cara mixing Live Show


Mixing Live Show tentunya tidak bisa dimulai jika kita belum bisa mengeset peralatan yang dibutuhkan untuk menghandle acara live show.

Pertama kita harus memastikan alat-alat berikut terpasang dengan sempurna:
  1. Snake Input dari Panggung
  2. Mixer Digital/Analog
  3. Graphic EQ
  4. Crossover
  5. Power Amp
  6. Speaker utama FOH
  7. Speaker Monitor Panggung

Setelah beres masalah teknis, pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan tuning audio system sehingga mengurangi feedback yang mungkin akan terdengar ketika acara berlangsung. 

CARA TUNING AUDIO SYSTEM adalah seperti berikut ini:
  1. Pastikan semua channel termasuk master dalam posisi gain dan volume fader ditutup
  2. Buka channel master ke posisi normal atau 0
  3. Buka satu channel mic vocal yang kamu pegang dengan posisi fader +5. 
  4. Perlahan buka gain nya hingga suara bisa terdengar di speaker utama dengan normal, tidak terlalu pelan, atau terlalu kencang
NAH SELANJUTNYA ADALAH TEST FEEDBACK (RING-OUT).
  1. Tutup kepala mic dengan telapak tangan, sehingga mulai mendengung menghasilkan suara feedback. 
  2. Cari frekuensi feedback nya dengan Graphic Equalizer lalu turunkan ke bawah 
Jika menggunakan equalizer digital, frekuensi feedback bisa terlihat jelas sehingga bisa di-cut dengan tepat. Tetapi jika menggunakan graphic equalizer tanpa frequency spectrum, maka harus dicoba per frekuensi dengan menaikkan beberapa fader hingga feedback terasa lebih kencang. Jika ketemu, maka diturunkan ke bawah.

Setelah itu, coba gunakan suara rendah dan carilah frekuensi yang membuat suara seperti orang pilek, itu adalah frekuensi muddy. Biasanya sekitar 100-300Hz, turunkan ke bawah.\

Test selanjutnya adalah bunyikan suara S di mic, cari frekuensi yang nyelekit di daerah hi-mid dan hi. Dimana jika dinaikkan terasa lebih menyakitkan telinga. Biasanya sekitar 5Khz ke atas. Turunkan ke bawah.

GAIN SETTING

Sebelum cek sound pastikan semua line input dari mic dan instrumen sudah masuk dengan sempurna dan pastikan:
  1. Instrumen musik atau musik dalam kondisi bagus
  2. Kabel audio jack yang digunakan tidak bermasalah (noise, solderan kurang kuat, putus-putus, dan sebagainya)
Lalu bunyikan semua Mic dan Instrumen, dalam kondisi volume fader masih di bawah, bukalah gain knobnya sedikit demi sedikit hingga mencapai pada level sweet spot, meternya berwarna hijau dan tidak clipping.
GAIN # VOLUME
Ingat gain tidak sama dengan volume. Volume tentunya mengatur keras-pelannya channel di speaker utama. Sementara itu, gain dapat diartikan sebagai Mic Sensitivity, tingkat kesensitifan mic yang digunakan. Semakin besar gainnya, mic menjadi semakin sensitif sehingga semakin mudah menjadi feedback.

CEK SOUND

Waktunya cek sound! Ingat cek sound adalah pekerjaan yang melibatkan orang banyak maka pastikan semua orang HADIR TEPAT WAKTU saat cek sound dan dipimpin SATU KOMANDO saat cek sound. Sehingga bisa efektif waktu dan bisa fokus mendapatkan hasil maksimal.

Cek sound dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Jangan rubah gain apapun setelah di setting sebelumnya, kecuali jika memang benar-benar perlu diatur ulang.
  2. Biasanya cek sound  dimulai dari instrumen perkusi/drum/ketipung dilanjutkan ke bass, gitar, keyboard, dan terakhir vocal
  3. Naikkan fader volume pelan-pelan hingga mendapatkan level yang pas. Jika dirasa perlu merubah karakter suaranya (kurang-ngebas, terlalu ngencring) maka gunakan EQ untuk mendapatkan suara yang diinginkan
  4. Gunakan EQ dengan lebih banyak menge-cut frekuensi, bukan menambah. Ini untuk menghindari feedback dan beban berlebihan yang ditanggung speaker sub maupun twitter.
  5. Lanjutkan ke semua channel hingga selesai. setelah itu semua instrumen dimainkan dengan membawakan lagu yang diulang-diulang. Saat itulah balancing antar instrumen hingga di dapat paduan komposisi yang pas dan menyatu.
  6. Giliran vocal masuk, pastikan vocal menjadi the king of show. Artinya level vocal harus di atas semua instrumen namun tetap menyatu.
IT'S SHOW TIME!

Saat show time, pastikan operator mixer tetap siaga mengamati dinamika permainan di atas panggung. The king of the show harus ditonjolkan pada saat yang tepat. Jika ada melodi gitar, contohnya, maka level gitar agak diangkat sedikit, dan diturunkan lagi setelahnya. Begitu juga melodi dari seruling, keyboard, dan lain sebagainya. 

Selain itu, perlu fokus juga ke penambahan efek jika dibutuhkan, seperti tap delay pada teriakan vocal di akhir lagu, dan seterusnya. Itu kembali ke kreativitas masing-masing.

MASALAH SAAT SHOW TIME

FEEDBACK
Feedback terjadi karena tuning yang belum beres di awal, tentunya hal ini perlu dicegah dengan benar-benar mengecek frekuensi feedback dan memotongnya. Jika ternyata terjadi di tengah penampilan, gunakan EQ dari mic yang digunakan dan tentunya terpaksa gain harus selalu dimainkan.

MIC/INSTRUMEN TIDAK MENYALA
Channel yang tidak menyala terjadi karena 2 hal utama:
  1. Instrumen bermasalah
  2. Koneksi antara instrumen ke mixer yang bermasalah
Maka pastikan sebelum pertunjukan hal-hal berikut ini:
  • Apakah baterai DI BOX, efek, dan perangkat wireles sudah diganti baru?
  • Apakah dudukan baterai longgar sehingga wireless set tidak mau menyala?
  • Mungkinkah solderan jack gitar jelek sehingga tidak menyala jika tidak disenggol?
  • Sudahkah tombol ON DI BOX ditekan?
  • Apakah knob volume keyboard tertutup nol?
  • Apakah adaptor sering mati-hidup dan perlu diganti?
  • Mungkinkah channel snake yang digunakan bermasalah?
  • Dan seterusnya...
Ingat! Saat show time, jangan ada channel yang diubah gain setting maupun volumenya. Mute channel tersebut, bereskan masalah yang ditemukan dan nyalakan kembali.

AKHIR KATA...

Mixing live show adalah pekerjaan yang membutuhkan 3 aspek:
ART (seni), SCIENCE (teknis), dan CUSTOMER SERVICE (layanan)
Yang terakhir ini memang perlu dilatih dengan penuh kesabaran. Bagaimana kita merespon semprotan marah dari orang panggung dengan kepala dingin dan pikiran yang tetap fokus. Respon dengan anggukan dan senyum simpul. Tidak perlu dibawa hati, jalani semua, dan gunakan telinga serta instingmu untuk bergerak cepat......!


Sumber 1

Kamis, 14 Juni 2018

Mengenal Pedal Efek Gitar

Pedal Efek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentuk ciri khas seorang gitaris. Maka untuk mendapatkan tone yang diinginkan seorang musisi atau produser harus memahami apa peran dan fungsi dari setiap jenis pedal yang digunakan. Setiap pedal memiliki fungsi berbeda yang tentunya akan berlainan efeknya jika urutan penempatannya diubah. Maka ga usah terlalu banyak dibayangkan, langsung menuju TKP!