Jumat, 18 September 2015

MIXING: Mengenal Equalizer

Equalizer artinya 'menyamakan'. Apanya yang disamakan? Jadi, begini ceritanya. Ketika ada gitar dengan warna suara khas alaminya melewati mic/pickup dan kabel sekian panjang dan diproses melalui berbagai macam alat dan software audio, ternyata suara yang keluar dari speaker sangatlah berbeda. Entah itu mendem (terlalu banyak low-freq), cempreng (terlalu banyak hi-freq), atau seperti radio (terlalu banyak mid-freq), dsb. Nah, tugas equalizer adalah menyamakan hasil suara speaker dengan suara aslinya. Dengan kata lain, Equalizer mengeluarkan kembali potensi suara aslinya.

Mixing sangat erat hubungannya dengan EQ (Equalizing) frekuensi, sehingga minimal kita tahu terlebih dahulu bagaimana suara sebuah instrumen pada frekuensi rendah dan bagaimana suaranya pada frekuensi tinggi. Selain EQ, faktor yang menentukan kualitas hasil mixing adalah Balancing (Keseimbangan) antara channel 1 dan 2 (Kiri dan Kanan).

Kita harus ingat apa tujuan mixing. Banyak definisi yang saling berbeda, tapi pada intinya adalah "Mixing adalah cara menyatukan beberapa audio agar dapat diputar dengan baik dan enak untuk di dengar".

Banyak para pemula berfikir tentang mixing seperti ini "Bila saya ingin membuat suaranya sangat nge-bass dan keras, maka saya naikkan frekuensi rendahnya sebanyak mungkin". Sayangnya dunia ini tidak berjalan dengan semudah itu. Pemikiran seperti ini hanya akan mendapatkan hasil audio yang hancur dan tidak enak didengar.

Untuk meng-efektifkan hasil EQ, kita harus tahu pada frekuensi apa instrumen tersebut bagus untuk disimpan. Seringkali kita justru mengecilkan "frekuensi khas" suatu instrumen yang dimaksud karena ingin mencapai suara global yang kita inginkan, dan hasilnya tetap berantakan. Jadi inti dari EQ adalah: mengeluarkankan karakter khas suara yang maksimal dari setiap instrumen.

Beberapa Tips EQualizing dalam Proses Mixing

  • Kurangi frekuensi yang tidak diperlukan, bila ingin membuat suatu frekuensi lebih terdengar (Jangan boost/naikkan frekuensi yang ingin diperbesar).
  • Hindari pengurangan frekuensi khas suatu instrumen, bila akan memperkecil suara instrument, perkecil pada output gain dari plugin EQ yang digunakan
  • Jangan pernah berfikir karena bass memiliki frekuensi yang rendah, maka kita menurunkan semua frekuensi tinggi pada instrumen ini, karena justru suara khas instrumen tersebut bisa saja berada pada frekuensi tinggi, begitu juga pada instrument yang kita anggap memiliki frekuensi tinggi.
  • Biasakan untuk mendengar hasil output dalam mono, baru kemudian dengarkan dalam stereo.
  • Bila kita melakukan mixing pada malam hari (Begadang), jangan lupa untuk mendengarkannya lagi pada pagi hari selepas kita bangun dari tidur.
  • Biasakan mendengarkan solo instrument (mute yang lain) ketika mendengarkan track secara keseluruhan, Bandingkan apakah instrumen tersebut terdengar ketika kita menjalankannya dengan instrumen lain atau tidak.
  • Gunakan speaker flat untuk mixing awal. Dengarkan ulang di headphone untuk mengecek panning dan kualitas mixing keseluruhan.
  • Latih pendengaran dan sering-seringlah mendengar lagu komersial dengan mixing profesional dengan kualitas file yang tinggi.
Pertama-tama kita harus mengatur semua volume instrumen yang akan di mixing ke 0 db (default) alias sama rata, lalu kita mulai dengan beberapa contoh formula berikut ini:
Contoh Formula EQ per Instrumen:

Kick Drum

Kick Drum merupakan heartbeat yang membuat suatu musik terkesan lebih ber-ritme. Kick Drum memiliki suara khas yang ngebass (low-freq) tapi juga memiliki klik (hi-freq). Cara terbaik mixing instrumen ini adalah dengan mengurangi frekuensi medium dari instrumen ini, sehingga bass dan suara klik lebih kental terasanya. Disarankan untuk menambah 2 sampai 4db pada 350Hz-450Hz, lalu mengurangi frekuensi lainnya, dan juga menambahkan 2db pada 2KHz-3KHz untuk memperkental suara klik.

Snare

Seperti Kick Drum, Snare juga berperan dalam ritme suatu musik. EQ yang asal-asalan membuat suara Snare menjadi sangat tipis. Cara terbaik mixing instrumen ini adalah dengan menambah 2-3dB pada "sekitar" frekuensi 80hz, kecilkan 2-3dB antara 350-450hz. Untuk menambah cerahnya suara instrumen ini jangan lupa menambah 1-2dB pada 5khz. Jangan lupa menambahkan kompresi dengan attack sekitar 2ms, dan release sekitar 11ms. Bila perlu tambahkan sedikit reverb tapi jangan berlebihan.

Hi-Hat

Ketika cymbal lebih berperan pada bang atau pemisah bar, hi-hat lebih berperan pada ritme tempo. Pastikan suaranya lebih jernih tanpa menjadikannya sangat keras (Jangan seperti Kick & Snare). Cara terbaik mixing instrumen ini adalah dengan mematikan frekuensi di bawah 200hz dan menaikkan 1-3dB antara 6khz dan 8khz, gunakan telinga untuk merasakan hasilnya.

Low (Floor) Tom

Mixing tom yang baik dapat membuat perbedaan antara drums fill dan drums solo tanpa perbedaan yang mencolok pada pendengaran. Cara terbaik mixing instrumen ini adalah mengurangi sekitar 12db sekitar 500hz, menambah 4-6dB sekitar 3khz, jangan lupa tambahkan kompresi dengan rasio 4.5:1, attack yang lebih lambat 120ms, dan release 90ms.

High (Rack) Tom

Seperti halnya Low Tom tapi High Tom memiliki frekuensinya sendiri, Cara terbaik mixing instrumen ini adalah mengurangi 10dB pada 600hz, menambah 7dB sekitar 2khz, dan kompresi dengan rasio 6:1, attack yang lebih cepat dari pada Low Tom yaitu sekitar 100ms, dan release yang sangat cepat sekitar 25ms.

Overheads

Overheads menampung dua audio, yaitu yang dihasilkan cymbals dan suara-suara khas dari instrumen drums lainnya (misalnya resonansi suara pedal bass drum, suara stick drums yang mengenai logam pada drums, sampai suara resonansi ruangan, dll). Cara terbaik mixing instrumen ini adalah dengan mematikan frekuensi dibawah 40hz, menambah 5dB sekitar 100 dan 200hz, jika dibutuhkan tambah 1-2db pada 5khz untuk menambah kecerahan suara. Untuk kompresi, set dengan rasio 3:1, attack 110ms, dan release 70ms.

Vocal

Vocal merupakan audio yang selalu dimixing terdepan, yang tingkat terdengarnya sangat tinggi, tapi bukan berarti vocal ini harus menutupi instrumen lainnya. Cobalah bermain pada frekuensi 120hz dan 200 sampai 240Hz, naikkan beberapa db pada 5khz untuk meningkatkan presence, dan jangan lupa juga pada 7.5 sampai 10khz untuk menampilkan suara khas suatu vocal. Gunakan telinga untuk mengamati mixing yang terbaik.

Guitar

Guitar biasanya akan menutupi kehadiran vocal bila tidak di mixing dengan baik, untuk menghindari hal tersebut, turunkan atau matikan frekuensi 1khz dan 5khz, tambah sedikit pada 100hz dan 250hz, juga antara 10khz dan 12khz, jangan lupa untuk bermain pada frekuensi 240hz, 2.5khz dan 8khz untuk membuat suanyanya lebih berisi. Untuk guitar akustik jangan lupa bermain pada 2khz, 120 sampai 200hz, dan mengurangi atau mematikan 7khz sampai 10khz. Sekali lagi, peranan telinga sangat penting dalam melakukan mixing instrumen ini.

Bass

Bass merupakan instrumen penting untuk menyatukan instrumen menjadi lebih erat, secara tidak langsung juga mempengaruhi perasaan pada ritme musik. Bermainlah pada frekuensi 60 sampai 80hz, tambah beberapa db pada 700hz sampai 1000hz, jangan lupa untuk menambah beberapa db pada 2.5khz, Ingat Bass bukan berarti semuanya frekuensi rendah, jangan menambah terlalu banyak frekuensi rendah pada instrumen ini, karena hanya akan mengakibatkan hasil suara yang muddy (berdengung) dan terkesan kecil.



    Share this

    2 Comments to "MIXING: Mengenal Equalizer"

    Posting Komentar