Senin, 17 September 2018

Perfect Drums: Drummer Siap Pakai (REVIEW)

Dari sekian banyak penghalang seseorang berkarya dalam Home Recording adalah Drum. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan suara drum yang berkualitas dia harus menyiapkan drumkit beserta mic di setiap bagiannya. Belum lagi mencari ruang yang bagus gemanya untuk mendapatkan Room. Ada juga masalah phase yang tabrakan dan seabrek masalah lainnya.

Maka, solusi cepatnya adalah DRUM PROGRAMMING. Sayangnya dari sekian banyak software Drum MIDI yang ada ternyata tidak menjamin suaranya langsung bagus. Ada yang menyediakan library file bergiga-giga tetapi perlu di mixing sendiri yang tentunya membutuhkan pemahaman EQ dan Compressor (*uhuk* Superriorr.. Drummer..*uhuk*). Jelas itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. 

Namun tenang saja, Naughty Seal Audio merupakan pendatang baru namun menyuguhkan sebuah solusi instan bernama PERFECT DRUM. Memang apa untungnya? Poin utamanya adalah kita bisa membuat Drum track dengan cepat dan kualitas yang memuaskan! Hanya itu saja? Ada lagi, program ini memungkinkan kita untuk melakukan layering sample drum kit. 


Layering Sample??? Apa itu?? Gampangannya, membuat suara drum khas kita sendiri dengan cara menumpuk suara drum yang ada dengan sample/potongan suara drum kit koleksi kita pribadi. Jadi andaikan kita ingin membuat suara kick yang berbeda kita bisa menumpuk kick dari plugin ini dengan suara kick drum yang pernah kita rekam. Hasilnya akan menjadi sangat unik. Kita bisa menumpuk semua macam kit dengan layer tak terbatas! Puas lah...


Uniknya lagi, drum ini juga memiliki fitur Parallel FX Processing. Intinya, dengan knob ini semakin ke kiri itu suaranya semakin mentah alias apa adanya tanpa efek, kalau diputar ke kanan akan semakin terpoles dengan EQ dan Compressor analog. Jadi semakin banyak lagi variasi suara yang dihasilkan.


Tersedia 13 kick, 12 snare drums, 29 toms (8 full sets), 9 hi-hats, 11 cymbal ride, 31 crash cymbal dengan 4 posisi berbeda, 13 china cymbal (5 di kiri dan 8 di kanan), 8 splash cymbals, 2 stack cymbals, 2 bel and dan 1 jamblock yang terakit dalam 12 kit siap pakai.

Menarik sih, tapi bagaimana nasib MIDI yang sudah dibuat dengan drum MIDI lain seperti EZDrummer atau Addictive? Tenang saja, sudah tersedia Mapping MIDI plugin Drum terkenal dari Addictive, Superior, EZDrummer, BFD, hingga Abbey Road KONTAKT. Jadi jika sudah ada yang kita buat tinggal drag dan ganti mapping, beres!

Semua itu tersedia hanya dengan harga USD 150. Murah banget! Apalagi sekali membeli, kita akan mendapatkan update-update selanjutnya dengan gratis seumur hidup. Kurang apa coba? Belum ada duit? Atau mau nyoba dulu? Admin sediain versi pak tani di link ini (pass: unstoppabble88) di nomor 44. Silahkan dicoba, dengarkan suaranya di bawah, kalau sreg langsung beli deh!

PREVIEW SUARA



DAFTAR KIT


Rabu, 29 Agustus 2018

Cara mixing Live Show


Mixing Live Show tentunya tidak bisa dimulai jika kita belum bisa mengeset peralatan yang dibutuhkan untuk menghandle acara live show.

Pertama kita harus memastikan alat-alat berikut terpasang dengan sempurna:
  1. Snake Input dari Panggung
  2. Mixer Digital/Analog
  3. Graphic EQ
  4. Crossover
  5. Power Amp
  6. Speaker utama FOH
  7. Speaker Monitor Panggung

Setelah beres masalah teknis, pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan tuning audio system sehingga mengurangi feedback yang mungkin akan terdengar ketika acara berlangsung. 

CARA TUNING AUDIO SYSTEM adalah seperti berikut ini:
  1. Pastikan semua channel termasuk master dalam posisi gain dan volume fader ditutup
  2. Buka channel master ke posisi normal atau 0
  3. Buka satu channel mic vocal yang kamu pegang dengan posisi fader +5. 
  4. Perlahan buka gain nya hingga suara bisa terdengar di speaker utama dengan normal, tidak terlalu pelan, atau terlalu kencang
NAH SELANJUTNYA ADALAH TEST FEEDBACK (RING-OUT).
  1. Tutup kepala mic dengan telapak tangan, sehingga mulai mendengung menghasilkan suara feedback. 
  2. Cari frekuensi feedback nya dengan Graphic Equalizer lalu turunkan ke bawah 
Jika menggunakan equalizer digital, frekuensi feedback bisa terlihat jelas sehingga bisa di-cut dengan tepat. Tetapi jika menggunakan graphic equalizer tanpa frequency spectrum, maka harus dicoba per frekuensi dengan menaikkan beberapa fader hingga feedback terasa lebih kencang. Jika ketemu, maka diturunkan ke bawah.

Setelah itu, coba gunakan suara rendah dan carilah frekuensi yang membuat suara seperti orang pilek, itu adalah frekuensi muddy. Biasanya sekitar 100-300Hz, turunkan ke bawah.\

Test selanjutnya adalah bunyikan suara S di mic, cari frekuensi yang nyelekit di daerah hi-mid dan hi. Dimana jika dinaikkan terasa lebih menyakitkan telinga. Biasanya sekitar 5Khz ke atas. Turunkan ke bawah.

GAIN SETTING

Sebelum cek sound pastikan semua line input dari mic dan instrumen sudah masuk dengan sempurna dan pastikan:
  1. Instrumen musik atau musik dalam kondisi bagus
  2. Kabel audio jack yang digunakan tidak bermasalah (noise, solderan kurang kuat, putus-putus, dan sebagainya)
Lalu bunyikan semua Mic dan Instrumen, dalam kondisi volume fader masih di bawah, bukalah gain knobnya sedikit demi sedikit hingga mencapai pada level sweet spot, meternya berwarna hijau dan tidak clipping.
GAIN # VOLUME
Ingat gain tidak sama dengan volume. Volume tentunya mengatur keras-pelannya channel di speaker utama. Sementara itu, gain dapat diartikan sebagai Mic Sensitivity, tingkat kesensitifan mic yang digunakan. Semakin besar gainnya, mic menjadi semakin sensitif sehingga semakin mudah menjadi feedback.

CEK SOUND

Waktunya cek sound! Ingat cek sound adalah pekerjaan yang melibatkan orang banyak maka pastikan semua orang HADIR TEPAT WAKTU saat cek sound dan dipimpin SATU KOMANDO saat cek sound. Sehingga bisa efektif waktu dan bisa fokus mendapatkan hasil maksimal.

Cek sound dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Jangan rubah gain apapun setelah di setting sebelumnya, kecuali jika memang benar-benar perlu diatur ulang.
  2. Biasanya cek sound  dimulai dari instrumen perkusi/drum/ketipung dilanjutkan ke bass, gitar, keyboard, dan terakhir vocal
  3. Naikkan fader volume pelan-pelan hingga mendapatkan level yang pas. Jika dirasa perlu merubah karakter suaranya (kurang-ngebas, terlalu ngencring) maka gunakan EQ untuk mendapatkan suara yang diinginkan
  4. Gunakan EQ dengan lebih banyak menge-cut frekuensi, bukan menambah. Ini untuk menghindari feedback dan beban berlebihan yang ditanggung speaker sub maupun twitter.
  5. Lanjutkan ke semua channel hingga selesai. setelah itu semua instrumen dimainkan dengan membawakan lagu yang diulang-diulang. Saat itulah balancing antar instrumen hingga di dapat paduan komposisi yang pas dan menyatu.
  6. Giliran vocal masuk, pastikan vocal menjadi the king of show. Artinya level vocal harus di atas semua instrumen namun tetap menyatu.
IT'S SHOW TIME!

Saat show time, pastikan operator mixer tetap siaga mengamati dinamika permainan di atas panggung. The king of the show harus ditonjolkan pada saat yang tepat. Jika ada melodi gitar, contohnya, maka level gitar agak diangkat sedikit, dan diturunkan lagi setelahnya. Begitu juga melodi dari seruling, keyboard, dan lain sebagainya. 

Selain itu, perlu fokus juga ke penambahan efek jika dibutuhkan, seperti tap delay pada teriakan vocal di akhir lagu, dan seterusnya. Itu kembali ke kreativitas masing-masing.

MASALAH SAAT SHOW TIME

FEEDBACK
Feedback terjadi karena tuning yang belum beres di awal, tentunya hal ini perlu dicegah dengan benar-benar mengecek frekuensi feedback dan memotongnya. Jika ternyata terjadi di tengah penampilan, gunakan EQ dari mic yang digunakan dan tentunya terpaksa gain harus selalu dimainkan.

MIC/INSTRUMEN TIDAK MENYALA
Channel yang tidak menyala terjadi karena 2 hal utama:
  1. Instrumen bermasalah
  2. Koneksi antara instrumen ke mixer yang bermasalah
Maka pastikan sebelum pertunjukan hal-hal berikut ini:
  • Apakah baterai DI BOX, efek, dan perangkat wireles sudah diganti baru?
  • Apakah dudukan baterai longgar sehingga wireless set tidak mau menyala?
  • Mungkinkah solderan jack gitar jelek sehingga tidak menyala jika tidak disenggol?
  • Sudahkah tombol ON DI BOX ditekan?
  • Apakah knob volume keyboard tertutup nol?
  • Apakah adaptor sering mati-hidup dan perlu diganti?
  • Mungkinkah channel snake yang digunakan bermasalah?
  • Dan seterusnya...
Ingat! Saat show time, jangan ada channel yang diubah gain setting maupun volumenya. Mute channel tersebut, bereskan masalah yang ditemukan dan nyalakan kembali.

AKHIR KATA...

Mixing live show adalah pekerjaan yang membutuhkan 3 aspek:
ART (seni), SCIENCE (teknis), dan CUSTOMER SERVICE (layanan)
Yang terakhir ini memang perlu dilatih dengan penuh kesabaran. Bagaimana kita merespon semprotan marah dari orang panggung dengan kepala dingin dan pikiran yang tetap fokus. Respon dengan anggukan dan senyum simpul. Tidak perlu dibawa hati, jalani semua, dan gunakan telinga serta instingmu untuk bergerak cepat......!


Sumber 1

Kamis, 14 Juni 2018

Mengenal Pedal Efek Gitar

Pedal Efek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentuk ciri khas seorang gitaris. Maka untuk mendapatkan tone yang diinginkan seorang musisi atau produser harus memahami apa peran dan fungsi dari setiap jenis pedal yang digunakan. Setiap pedal memiliki fungsi berbeda yang tentunya akan berlainan efeknya jika urutan penempatannya diubah. Maka ga usah terlalu banyak dibayangkan, langsung menuju TKP!

Rabu, 13 Juni 2018

Tips Mendapatkan Tone Gitar yang Tepat

Berulangkali kita dapatkan lagu yang keren tapi terasa hambar hanya karena gitarnya terdengar menyayat telinga, sama sekali tidak nyaman di dengar! Ada juga tone gitar yang bagus tapi terasa kurang 'nendang'. Atau mungkin clean yang indah tetapi tidak bisa penuh mengisi kebutuhan lagu, seperti ada yang kurang..

Masalah di atas sering ditemui dalam studio rekaman jika gitaris tidak bisa meracik sendiri tone gitar yang tepat untuk kebutuhan lagu. Maka kali ini kita akan membahas hal itu demi mendapatkan hasil mixing yang maksimal!

Selasa, 12 Juni 2018

Speaker Monitor DS5A: Murah, Bukan Murahan! (REVIEW)

Lama tidak posting ya. Hehehehe.. Kali ini mimin mau review mainan baru di Grenada Studio: Speaker Monitor DS5A.

Gear Review ini merupakan serial baru dari mimin untuk mengenalkan tools mixing baik software maupun hardware yang SUDAH pernah mimin gunakan saat mixing. Review ini sama sekali tidak disponsori pihak manapun, murni dari telinga dan hati nurani (bahahaha). Tapi kalau ada yang mau promote, mimin terima kok. 😏

Oke, cerita dulu yak.. Ini speaker pribadi mimin yang pertama kali kenal dari ZealMusik sama blog-nya mas Cahya. Awalnya sih cuek aja, karena sudah ada si putih YAMAHA HS-5 milik Grenada Studio. Tapi ketika ada momen terpikir untuk beli speaker buat studio pribadi, barulah otak berputar dan AHA! Teringatlah dengan speaker ini.

Speaker ini saya dengar pertama kali di showroom ZealMusik Jogja. Kesannya sih awalnya biasa aja. Karena belum mengaktifkan mode "Critical Listening". Hehehehe.. Kampus 3 pun menggunakannya di bawah naungan Mas Jaka. Tapi setelah melihat beberapa review dan sempat mendengarnya langsung, dengan mantap saya pesan langsung via Tokopedia di lapak Apregio Musik Surabaya dengan harga 1,75 juta (Mei 2018).

By the way, ni speaker rakitan China yang serumpun dengan merek ISK yang terkenal sebagai gear kere hore buat home studio. Kalau menurut blog resminya sih, frequency response-nya hampir flat, alias benar-benar jujur (lihat gambar di bawah). Tapi, tetap saja, hearing is believing. Dengan mendengar langsung baru bisa percaya.
Frequency Response DS5a (versi situs resminya)

Review Eksterior

Begitu sampai, paketnya terasa ringan. Speaker ini bercasing kayu dan terasa jauh lebih ringan dibanding speaker luar negeri seperti Yamaha, KRK, dll. Hanya 9 kg satu pasang! Powernya pun hanya satu, di speaker kiri yang memiliki LED biru di depan. Speaker kanan dihubungkan lewat kabel output biasa untuk mentransfer power dan data audio dari speaker kiri. Jadi, lebih simpel ya. Tombol power cukup satu di kiri. Gak perlu lagi cetek kanan - cetek kiri seperti Yamaha. Rivet!! 😓

Inputnya ada dua macam: TRS dan RCA. RCA ini menggunakan satu kabel stereo yang bisa kita colokkan ke output headphone. Sementara TRS adalah 2 input kabel jack 1/4" biasa (kabel PA untuk gitar dan keyboard) yang harus dihubungkan sesuai L dan R output dari soundcard. Pakainya salah satu aja, ga perlu dua-duanya. Bisa jebol nanti gara-gara overload. Hehehehe....

Di belakang juga kontrol tone speakernya sangat simpel: hanya Volume! Tidak ada room control, bass response, treble dan lain sebagainya. Untuk amannya, arahkan tombol volume ke mode netral, posisi angka 12. Standar lah yaa..

Karakter Speaker

Nah, kita masuk ke pembahasan intinya nih: bagaimana kualitas suara yang dihasilkan???
Di sini saya menggunakan sistem A/B Comparison antara DS5A dengan Yamaha HS-5 milik studio. Routing master output saya pecah jadi dua ke masing-masing speaker, lalu saya Solo bergantian. Setelah saya gain-matching (menyamakan volume output) dan dengarkan bolak-balik, saya terkejut dengan hasilnya! Ini speaker kere tapi kualitasnya gile!

Pandangan pertama saya menyimpulkan high-end alias treble speaker ini memang lebih tinggi ketimbang HS-5. Otomatis telinga langsung ambil kesimpulan: bassnya kalah sama HS-5. Tapi setelah saya solo low-end nya lewat multi band compressor, ternyata tidak ada beda! Dari situ saya mulai introspeksi telinga. Wakakakak..

cek low end pake solo multiband
Saya mengambil lagu referensi band favorit sepanjang masa: Dream Theater dengan lagu Forsaken. Langsung masuk reff, diputar loop, dan... Baru sekali pindah speaker saya lebih terkejut lagi. DS5A memiliki mid-range definition/clarity yang sangat detail dan jelas, jauh di atas HS-5! Vokal sangat terasa lebih menonjol, instrumentasi ritem gitar yang super tebal terdengar lebih galak. Dengan kata lain, separasi antar instrumen sangat mudah dirasakan. Lalu, apa keuntungannya? 

Jelas untung! Saat EQ, saya merasa lebih mudah untuk berkonsentrasi ke instrumen yang saya ulik. Pergesaran EQ pun lebih mudah terdeteksi dan terasa efeknya, Sehingga memudahkan kita untuk membagi ruang frekuensi antar instrumen yang sering bertabrakan, terutama bagian mid-range: antara 2k - 4k.


Kalau meminjam istilah Paul Mike Stavrou, hardness/firmness speaker ini lebih nendang dibanding speaker Yamaha HS-5. Perbandingannya, skor 7 sama skor 5 lah. Jadi saya merasa sangat sesuai dengannya. Karena sekian banyak mixingan saya banyak dikritik oleh senior saya (seperti Suhu Hasan Muttaqin, hehehe..), terasa terlalu nendang dan keras, cenderung berkarakter metal. Sehingga untuk mengimbanginya agar menjadi tidak melulu keras, saya perlu hijrah ke speaker berkarakter cadas juga seperti DS5A ini. Jadi nanti lebih soft-soft empuk gitu. 🤔

Meskipun saya melihat banyak keunggulan, tapi tetap saja setiap monitor memiliki karakter masing-masing yang tentunya bisa bermanfaat dalam berbagai kondisi. Maka tidak heran di studio profesional banyak kita temui yang menggunakan dual monitor bahkan sampai 4 pasang monitor! Umumnya sih: satu speaker mono di tengah, dua pasang nearfield-monitor di sekitar mixer, dan sepasang speaker dinding di belakang mixer! Itu gunanya tentu untuk mengecek translation hasil mixing sehingga terdengar maksimal di segala jenis speaker apapun.

Multi Monitoring di AIR Studios London

Tips: Kenalan dengan Speaker

Speaker apapun bagusnya tidak akan menghasilkan potensi maksimal kalau kita belum berkenalan sebelum menggunakannya. Kenalan di sini tentunya dengan memutar hasil mixing kualitas profesional yang sudah kita kenal baik warna suaranya. Sehingga dengan cepat kita bisa menilai karakter dari speaker. Dari interview sekian banyak mixing engineer, banyak yang menyarankan tidak langsung memulai mixing saat bekerja di studio yang baru ditemui, tentunya perlu masa perkenalan ini. 

Seberapa lama dan seberapa banyak lagu kenalannya? Itu sangat subjektif. Bisa jadi 5 lagu, 1 jam, bahkan mungkin saja 3 hari kita putar sekian banyak album baru kita merasa kenal. Cukup ikuti suara hati aja.. Wakakakakk

Sekian dulu gaes, kalau ada pertanyaan, sangkalan, protes, atau nagih hutang sekalian, silahkan sampaikan di komentar bawah ini. Seeya!

Glossary:
  • translation: kemampuan sebuah lagu untuk bisa dinikmati dengan maksimal di semua jenis speaker
  • near-field monitor: jenis speaker yang biasa dipakai dengan jarak dekat seperti pada umumnya home recording studio
  • high-end: Frekuensi tinggi dari audio (>6 KHz)
  • low-end: Frekuensi rendah dari audio (<1 KHz)
  • mid-range: Frekuensi pertengahan dari audio (1 - 4 KHz)

Kamis, 15 Maret 2018

5 Langkah Mengawali Mixing di Home Studio

Di balik tutorial proses mixing para profesional yang terlihat menyenangkan dengan berbagai plugin yang digunakan, ternyata ada pekerjaan di belakang layar yang seringkali tidak diungkap.

Dalam studio mixing profesional, para mixing engineer profesional memiliki asisten mixing pribadi yang mempersiapkan segalanya agar siap mixing. Masalahnya sekarang, dalam home studio kayak kita begini, memang ada asisten pribadi? MIMPI BANGET!! Wkwkwkwk..

Maka dari itu agar mixing kita maksimal kita harus mempersiapkan track kita agar siap digunakan. Dan tentunya langkah ini sangat krusial yang bisa menentukan proses dan hasil mixing kita nantinya.
Apa saja langkah-langkah tersebut?

Minggu, 28 Januari 2018

Mixing Lebih Maksimal dengan VU Meter

Gain staging (mengeset volume audio mentah) dalam mixing sangat penting untuk mendapatkan hasil mixing maksimal. Dan semuanya bermula dari fase rekaman pertama kali saat mic mulai merekam audio dengan volume rata-rata -18db. Namun adakah cara yang lebih mudah untuk monitoring volume audio yang terekam?
Ternyata ada! Dan namanya adalah:

VU METER


Dalam dunia rekaman, ada berbagai pilihan jenis audio meter untuk memonitor seberapa kencang audio direkam atau diputar. Sementara rekaman digital modern yang ITB (In-The-Box) menggunakan peak meter, para operator mixing terdahulu menggunakan VU Meter yang biasa kita lihat di hardware mixer jadul yang khas dengan jarum yang bergerak-gerak.

Ternyata VU Meter memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan peak meter bawaan DAW, yaitu:
  • Hasil mixing kita akan berkualitas lebih bagus
  • Kita akan terbantu mendapatkan headroom yang tepat untuk mastering
  • Plugin audio akan bekerja lebih maksimal
  • Memudahkan pekerjaan mastering engineer
  • Memudahkan kita dalam menemukan volume yang tepat saat mixing
  • Menyelesaikan masalah volume audio antar track dengan lebih cepat

Jenis-Jenis Audio Meter

Sebelum kita berbicara lebih jauh masalah VU Meter, ada baiknya kita kenalan dulu dengan beberapa jenis audio meter yang sering kita lihat:

1. Peak Meter

Peak adalah istilah untuk menunjukkan seberapa kencang audio dengan satuan dBFS (Decibels Full Scale). Peak Meter bereaksi cepat dan realtime saat menunjukkan sinyal audio. Hampir semua DAW menyediakan meter jenis ini dan sangat berguna (dibantu dengan VU Meter) saat proses rekaman untuk menghindari kliping digital, terutama rekaman drum dan perkusi yang kencang dan sangat dinamis.

2. RMS Meter

RMS meter ini sering kita lihat di master fader dan plugin khusus mastering (sepert Slate FG-X di gambar). RMS menggunakan satuan dari akar kuadrat sinyal rata-rata audio. Artinya meter ini tidak bersifat realtime dan secepat peak meter, tapi menunjukkan nilai rata-rata dari volume audio. RMS meter digunakan untuk penghitungan statistik terhadap volume keseluruhan dan sangat berguna untuk mastering.

3. VU Meter
VU meter ini sering kita jumpai pada hardware mixing klasik dan plugin VST yang menjiplak hardware analog (seperti PSP Vintage Warmer di atas). VU meter menggunakan satuan dbVU (Decibels Volume Unit) yang memiliki respon yang paling lambat dibandingkan meter lainnya dan tidak mengikuti lonjakan volume audio secara realtime seperti Peak meter. Ia bekerja menilai audio seperti halnya telinga manusia dengan menggunakan rata-rata volume keseluruhan (sama dengan RMS). Karena itu VU meter sangat berguna saat fase mixing.

Peak Meter vs VU Meter

Seperti kita ketahui keduanya memiliki satuan yang berbeda (dbFS dan dbVU). Keduanya sama-sama memberi kita gambaran volume audio, tetapi dengan perspektif yang berbeda.

Dalam rekaman digital, 0dbFS (di peak meter DAW) merupakan puncak dari meter, yang tidak bisa ditembus. 
Jika volume sinyal masuk melebihi itu, maka dia akan terpenggal dan terjadilah clipping digital. Hasilnya adalah distorsi yang sangat jelek dan audio yang terekam tidak layak pakai. HINDARI ITU.

Kesimpulannya, tujuan utama peak meter adalah memberi kita batasan yang jelas agar tidak terjadi clipping.

Adapun VU Meter bergerak lebih lambat karena bekerja dengan menghitung nilai rata-rata dari audio yang kita dengar (RMS). Karena itulah, VU meter bisa memberi kita gambaran lebih jelas "seberapa kencang" audio yang kita dengar, dan lebih membantu saat rekaman dan mixing.

VU Meter memiliki nilai 0 juga. Bedanya nilai 0 ini bukan nilai mutlak yang tidak boleh ditembus. Sehingga tidak masalah jika beberapa saat VU meter melewati angka 0. Karena angka 0dbVU itu setara dengan -18 dbFS pada Peak meter....!
0 dbVU = -18 dbFS


Jadi, saat merekam audio kita tidak perlu pusing melihat meter DAW dengan angka-angkanya yang kecil itu, cukup pasang VU meter dan pastikan jarumnya berputar-putar sekitar angka 0. Lebih nyaman, bukan?

Sekalipun begitu, Peak Meter tetap unggul di atas VU meter saat monitoring rekaman drum dan instrumen perkusi. Karena perubahan volume yang sangat dinamis dan cepat tidak dapat ditangkap dengan baik oleh VU Meter. Sekalipun begitu, hampir semua plugin VU Meter sekarang ini menyediakan mode PPM (peak meter) sehingga bisa digunakan untuk monitoring rekaman drum dan sejenisnya.

Mixing dengan VU Meter

Dengan memanfaatkan nilai 0 pada VU meter, kita akan mendapatkan volume audio yang optimal untuk diproses dengan plugin. Jika kita menilik sejarah rekaman, zaman analog dulu, para teknisi mixing selalu mengeset volume audionya sekitar 0 VU sebelum memprosesnya dengan compressor atau EQ analog klasik agar mendapatkan efek yang optimal dan berkualitas.

Artinya, jika kita terapkan nilai 0 VU saat menggunakan plugin tiruan hardware analog, semua preset dan setting kita akan menghasilkan suara yang lebih baik yang berujung pada hasil mixing yang lebih baik pula. 

Jika kita terapkan penggunaan VU meter pada Master Track, kita akan mendapatkan hasil mixing dengan headroom yang optimal untuk mastering, yang tentunya output lagu kita akan melonjak kualitasnya!
Fitur Trim di bawah meter

Kita bisa menggunakan fitur Trim (lihat di bawah meter pada gambar di atas) untuk mengatur volume audio langsung dari plugin tanpa perlu menggunakan item gain atau Volume pre-FX yang sudah dijelaskan di posting sebelumnya.

Unduh Plugin VU Meter Gratis!

VU Meter tersedia di hampir semua plugin jiplakan hardware analog semacam kompresor LA-2A, CLA-76, Fairchild, dan lain-lain. Tetapi ada juga versi khusus metering saja. Pilihan saya jatuh pada Klanghelm VUMT yang memiliki fitur luar biasa lengkap dan tampilan skins beragam yang menarik. Ia bisa menjadi single monitor untuk mono plus dual monitor untuk stereo, memiliki filter hi-pass/low-pass, mode Stereo dan Mid-Side, dan seterusnya. Klik di sini untuk mencari versi pak tani dengan nomor 18 (sandi: unstoppable88). Hehehehehe...
Klanghelm VUMT Deluxe - the best VU Meter

Adapun untuk versi gratisnya saya jatuh cinta pada StereoChannel dari SleepyTimer yang bisa di download di sini.
StereoChannel VST - SleepyTimer Records
Sumber 2
Sumber 3

Selasa, 23 Januari 2018

MITOS: Rekam Yang Kencang Asalkan Tidak Clipping!

Seringkali kita dengar tips untuk merekam instrumen sekencang-kencangnya asalkan tidak clipping. Alasannya agar suaranya lebih tebal dan 'hangat'. Benarkah?

Ternyata tidak sama sekali....!!! 

Cara merekam zaman now dengan 10 tahun yang lalu sangatlah berbeda sama sekali. Adanya tips di atas itu karena keadaan memaksa operator rekaman melakukannya.

Pertama, zaman old merekam menggunakan console dan hardware analog yang pastinya memiliki noise yang sangat parah.

Maka untuk menutupi suara noise, audio harus direkam dengan kencang.

Kedua, semakin kencang kita merekam di zaman old, hardware analog akan menghasilkan karakter suara tebal (harmonic saturation) dan kompresi yang nyaman didengar telinga. Sementara dalam dunia rekaman digital keuntungan itu..... TIDAK ADA. Kita merekam pelan ataupun kencang maka kualitas audionya akan sama, hanya berbeda level/volume.

JUSTRU, dalam rekaman digital, Clipping merupakan zona terlarang dan sangat haram dilakukan.

Karena clipping dunia digital tidak bermanfaat apa-apa dan sangatlah merusak kualitas audio sehingga tidak layak dipakai....! Kesimpulannya, tidak usahLAH kita bermain-main dengan api. Tidak ada gunanya merekam kencang yang sangat beresiko clipping.

JADI SOLUSINYA....?

Karena teknologi sekarang ini rekaman menggunakan digital atau ITB (In-The-Box, dalam komputer maksudnya, hehehe..), kita tidak lagi perlu merekam terlalu kencang.

Kita cukup merekam dengan memperhatikan gain staging alias volume optimal yang memudahkan plugin memproses audio. Yaitu merekam dengan volume rata-rata sekitar -18 db

Ada apa dengan -18 db?

-18 db merupakan volume optimal dalam rekaman analog yang dikonversi ke rekaman digital. Artinya jika kita merekam dengan rata-rata -18 db, plugin akan mampu bekerja lebih maksimal, lebih berkarakter, lebih hangat, lebih bagus, dan lebih-lebih lainnya.

Semua plugin audio dikalibrasi untuk bekerja maksimal pada volume -18db, apapun mereknya. Tentunya masih ada toleransi dinamika audio yang paling kencang sekitar -12 db, tapi jangan lebih dari itu...!

Tapi, audio terlanjur direkam terlalu keras, bagaimana dong?

Kalau memang sudah terlanjur direkam terlalu keras, kita masih bisa memanfaatkan file audio yang ada. Namun harus dilakukan gain staging (pengaturan ulang volume mentah audio) secara manual. Dalam REAPER, kita bisa menggunakan fitur item volume ataupun pre-FX volume.

Gain Staging dengan Item Volume:
1. Biarkan volume tetap posisi awal (0 db)
2. Arahkan mouse ke atas item hingga berbentuk panah. 

3. Klik tahan ke bawah hingga volumenya sekitar -18 db sampai -12 db.

Gain Staging dengan Pre-FX Volume:
1. Biarkan volume tetap posisi awal (0 db)
2. Klik tombol automasi pada track
3. Pada jendela automasi pilih Volume (Pre-FX)
4. Klik tahan pada garis lurus warna hijau dan atur hingga volumenya kisaran -18 db. 

Jadi, mulai sekarang, turunkan volume input di sound card-mu dan berhenti merekam terlalu kencang...!

Sumber

Minggu, 21 Januari 2018

Jalan Kerja Mixing Paling Mudah dengan Hasil Bagus



Setiap mixing engineer pasti memiliki cara kerja masing-masing sehingga memudahkan mereka untuk bekerja mendapatkan hasil maksimal meskipun dalam waktu yang singkat. Ya benar, waktu singat dengan hasil yang bagus!

Dibandingkan bekerja asal bergerak tanpa ada pedoman untuk melangkah, lebih baik kita kerja minimalis dengan terarah dengan pengaruh yang nyata. Hasilnya jelas - lebih sedikit usaha, hemat waktu, dan hasil yang luar biasa.

Dengan sistem ini kita akan merasa lebih percaya diri dan menghasilkan mixing yang lebih bagus. Namanya adalah:

Slow Focus Mixing

Banyak orang yang memulai mixing dengan kick dan bass lalu memproses instrumen lainnya satu per satu. 

Tetapi sistem yang satu ini justru sebaliknya. Tinggalkan detail kecil seperti kick drum di akhir proses mixing.

Mulailah dengan gambaran besar - lalu dengan perlahan fokus ke detail-detail kecil sejalan dengan proses mixing. Atau dengan istilah lain:


TOP DOWN MIXING

Mulailah dengan menyeimbangkan volume dan panning. Naik-turunkan fader berdasarkan insting dan tegaslah, jangan takut salah.


Rasakan getaran dan karakter dari musik yang dibawakan. Lalu tentukan, instrumen mana yang paling penting dan harus menonjol? Track mana yang mengganggu dan perlu dibuang?

TAHAP PRA-MIXING: PERSIAPAN

Sebelum mulai cek volume setiap track (gain staging) dan aturlah project mixing yang akan digarap. Memberi nama yang singkat dan mudah diingat, memberi warna, membuat marker, termasuk hal yang harus digarap di sini.

Lalu buatlah folder bus per instrumen. Buat satu folder bus khusus bernama 'DRUMS' untuk sekian banyak track milik drum dan perkusi. Folder bus 'GUITARS' berisi semua track gitar elektrik dan akustik, dan seterusnya.


TAHAP PERTAMA: GAMBARAN BESAR

Naikkan fader mixer dan jadikan semuanya di panning ke tengah.

Putar reff akhir (yang paling rame) berulang-ulang dan mulailah menyeimbangkan volume antar track dan mematikan (mute) track yang kurang penting. Jangan ragu untuk tidak menggunakan sebuah track yang tidak berpengaruh baik kepada lagu. Tegaslah dan jangan takut.

Habiskan lebih banyak waktu dengan maksimal untuk menyeimbangkan volume. Inti dari mixing adalah pada tahap pertama ini.

TAHAP KEDUA: PROSES PADA GROUP/FOLDER BUS

Ingat, sistem ini bekerja dari gambaran besar dan terus ke bawah menuju detail yang lebih teliti...

Maka, lebih baik kita mulai dari master track, lalu folder bus, dan terakhir per track.

Ini adalah cara paling efisien yang menghemat waktu dan tenaga. Semuanya bisa beres dengan lebih sedikit plugin.

Pertama kita masukkan EQ pada master track. Hati-hati setting agak ekstrim akan merusak keseluruhan mixing kita. Cukup sentuhan ringan tapi bisa berdampak besar.

Contohnya jika lagu terasa agak bergemuruh dan tidak jelas, kita bisa memotong 2 db pada frekuensi sekitar 500-800 Hz. Agar lebih cerah kita angkat frekuensi tinggi beberapa db.


Setelah EQ selesai kita lanjut kepada compression. Terapkan beberapa db gain reduction yang ringan untuk memberi efek menyatu dan berkarakter pada lagu. Jangan terlalu keras mengkompres karena hasil mixing akan terasa seperti naik-turun dan tidak natural.

Setelah beres di master fader, lanjutkan pada folder bus lain yang membutuhkan EQ dan compressor - seperti folder drum dan gitar - dan folder lain yang membutuhkan perlakuan ekstra.

TAHAP KETIGA - EFEK PER TRACK

Beberapa instrumen butuh perlakuan istimewa. Semisal, kick yang perlu dicompress dan diatur EQ nya dengan setting khusus. Hal ini juga mencakup panning. Seperti panning tom dan Overhead. 

Terapkan semua setting khusus yang dibutuhkan pada track-track tertentu yang tidak bisa dilakukan pada folder bus. Baik itu EQ, Compression, dan panning. Jangan lupa untuk selalu mengatur ulang keseimbangan volume setelah memasang efek.

Setelah beres, atur setting khusus lead vokal (vokal utama) sebelum menginjak tahap selanjutnya.

TAHAP KEEMPAT - PERCANTIK DENGAN MAKE-UP

Sekarang saatnya membuat beberapa sentuhan makeup dan hiasan.

Automasi pada volume dan panning bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas mixing. Ini sangat vital - atur penggunaan automasi dengan mendengar mixingan mentah berulang-ulang. Tentukan mana yang harus menonjol, mana yang harus dipindah panningnya, semua tergantung seleramu!


Efek juga bisa di automasi untuk penekanan bagian lagu, memberi kesan menarik dan karakter pada lirik. Cobalah untuk mengautomasi send level pada delay di bagian akhir vokal bernada tinggi. Atau automasi efek reverb yang semakin banyak saat teriak di reff. Semuanya tergantung seleramu!

TAHAP KELIMA - SENTUHAN AKHIR

Setelah sekian lama setting efek, saatnya untuk mengambil istirahat yang agak lama. Telinga perlu di-refresh di luar ruangan mixing dan terbebas dari speaker monitor agar kembali 'normal'. Setelah istirahat, nyalakan komputer dan DAW, sebelum memutar hasil mixing yang sudah jadi, matikan layar monitor, dan tulislah daftar masalah yang terdengar dari hasil mixing-mu saat mendengarkannya.

Semisal, masalah yang ditulis 'gitar rythm terlalu kencang saat reff', atau 'kick tenggelam dalam petikan bass'. Setelah selesai diputar, perbaiki masalah-masalah tadi satu per satu. Ulangi langkah ini beberapa kali hingga merasa puas dengan hasil mixing kita. 

Untuk memudahkan dalam memahami sistem Slow Focus Mixing, tempelkan diagram ini pada tembok samping komputermu.




Sekian gambaran dari kerja sistem Slow Focus Mixing. Terus, apa kelebihannya dari cara biasa? Dengan sistem ini kita bisa mendapat hasil mixing lebih maksimal dalam waktu lebih cepat dan dengan lebih sedikit plugin. Ketika proses rekaman di awal sudah bagus, kita bisa mendapatkan hasil mixing bagus ketika memproses folder bus dan beberapa track saja. Sehingga kita tidak perlu membebani diri setting sekian banyak efek pada setiap track. Tentunya hasilnya akan lebih natural, orisinil, dan memuaskan!