Kamis, 15 Maret 2018

5 Langkah Mengawali Mixing di Home Studio

Di balik tutorial proses mixing para profesional yang terlihat menyenangkan dengan berbagai plugin yang digunakan, ternyata ada pekerjaan di belakang layar yang seringkali tidak diungkap.

Dalam studio mixing profesional, para mixing engineer profesional memiliki asisten mixing pribadi yang mempersiapkan segalanya agar siap mixing. Masalahnya sekarang, dalam home studio kayak kita begini, memang ada asisten pribadi? MIMPI BANGET!! Wkwkwkwk..

Maka dari itu agar mixing kita maksimal kita harus mempersiapkan track kita agar siap digunakan. Dan tentunya langkah ini sangat krusial yang bisa menentukan proses dan hasil mixing kita nantinya.
Apa saja langkah-langkah tersebut?

1. ORGANISASI TRACK (URUTAN, NAMA, WARNA, MARKER)

Organisasi track di sini sudah pernah kita bahas pada postingan sebelumnya. Intinya urutkan letak track kita pada tempat yang sudah terbiasa kita gunakan. Dan jangan lupa untuk routing menggunakan bus Folder. Saya sendiri urutan track seperti ini:

DRUMS > Kick, Snare, Tom Hi, Tom Mid, Tom Floor, OH R, OH L, Room
PERCUSSIONS > Shaker, Bongo, Tamborin, Cajon
BASS > DI Bass, Bass Amp, Distorted, Solo, Slap
GUITARS > Acoustic (L+R), Rhythm Drive (L+R), Lead, Solo
KEYS > Piano, E. Piano, Accordion, Synth, Organ
STRINGS > Contrabass, Cello, Viola, Violin
LEAD VOCALS > Verse, Bridge, Reff, Distort Vox, Ad Lib
BACK VOCALS > Harmony (L+R), Choir (Low, Mid, Hi Pitch)

NOTES:
- List di atas hanyalah contoh, tergantung instrumentasi dan aransemen setiap lagu
- Urutan di atas tidak baku, atur ulang semuanyah terserah anda!
- Letter ditulis tebal adalah nama folder bus dengan anggota-anggotanya di kanan. Ada juga folder bus baru yang berisikan track dengan nama dalam kurung.
- Untuk menghemat memori komputer, selalu render/freeze semua suara MIDI menjadi audio setelah aransemen dan hasil rekaman sudah fix
- Harmony vocal (nada dua) biasa saya rekam dua kali dan dipanning lebar kanan-kiri, lalu ditambahkan dengan EQ dan Reverb khusus
- Ad Lib Vocal: improvisasi vokal yang ekspresif sehingga menambah kesan klimaks di puncak lagu
- Lead Vocal (vokal utama) biasanya saya pecah ke track baru per bagian lagu agar lebih mudah mixingnya
- Bass saya bedakan jika ada solo bass di tengah lagu ataupun main slap
- INTINYA, jika ada bagian dari sebuah track yang perlu diperlakukan khusus, lebih baik dipecah sendiri menjadi track baru agar lebih memudahkan kita dalam mixing!

Setelah selesai di atur urutan, nama, dan foldernya, lanjutkan dengan memberi warna tertentu yang konsisten di setiap mixing kita. Contoh, Semua track drum selalu saya warnai merah. Pokoknya kalau bingung nyari drum, cari aja warna merah! Semua track gitar selalu warna hijau muda, semua track Vocal berwarna biru muda, tergantung selera kita.
Saran saya sih, pake warna terang, agar tidak bikin capek mata, dan memudahkan kita melihat gelombang audio sebuah track yang biasanya berwarna lebih gelap. Tapi, semuanya kembali pada selera masing-masing.

Agar lebih mudah, beri juga gambar icon di setiap track. Sehingga kita tidak perlu membaca nama untuk mencari track, cukup melihat gambar.

Agar mudah untuk loncat-loncat ke bagian-bagian lagu, saya membuat marker per bagian lagu. Sehingga andaikan ingin ke bagian reff tinggal tekan angka 5, ingin ke intro pertama tekan angka 1, dan seterusnya. Sangat simpel tapi penting banget! Sudah? Lanjut ke step selanjutnya!

2. GAIN STAGING AUDIO MENTAH

Gain Staging itu apa sih? Ini juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Intinya kita mengatur volume awal audio mentah sebelum terkena plugin dan slider volume. Sehingga saat kita memainkan semua track dengan posisi volume masih nol (belum disentuh), masih ada headroom (jarak kosong di bawah clipping) dan tidak terjadi clipping merah di semua track dan master track! Ini penting agar kita bisa mendapatkan hasil mixing dan kinerja plugin yang lebih maksimal.

3. CEK PHASE/POLARITY

Saat merekam sebuah suara dengan lebih dari satu mic, terkadang kita terkena masalah phase. Sehingga contohnya, suara kick menjadi lebih kecil, tidak berenergi, dan tidak maksimal. EQ dan compressor apapun tidak akan bisa memperbaikinya. Hal itu terjadi karena ada selisih waktu antara suara menuju mic kick dan suara menuju mic overhead. Akibatnya dua sinyal tadi bertubrukan dan ada beberapa frekuensi yang hilang. Solusinya?
Nyalakan mode mixing Mono. Tekan tombol phase di track. Bandingkan kualitas suara saat on dan off. Pilih yang lebih tebal.
Ada juga solusi lebih mudah dengan menggunakan plugin, seperti AutoAlign dari SoundRadix.
Kenapa hal ini penting? Karena sekali lagi, kita tidak akan mendapatkan suara maksimal saat mixing dengan teknik apapun jika kita melewati langkah ini!

4. VOLUME BALANCE + STEREO BALANCE (SISAKAN HEADROOM)

Inti dari mixing adalah BALANCE. Tidak peduli apapun plugin yang dipakai selama volume tidak seimbang, kita tidak akan pernah dapat hasil yang memuaskan! Langah ini terkenal dengan sebutan Rough Mixing atau Raw Mixing atau biasa dikenal dengan Mixingan Mentah. Mungkin yang terakhir itu ya yang sering kita dengar. Hehehehe..

Gimana caranya?

Turunkan fader volume semua track lalu mulailah menaikkannya satu per satu di bagian lagu yang paling rame. Biasanya sih di reff terakhir yang klimaks. Saya sendiri biasa menaikkannya dari Drum, Bass, Gitar, sampai terakhir vokal. Ada juga yang lebih suka dari vokal dulu baru drum hingga akhir. Terserah nyaman yang mana..

Jika ada track yang hanya muncul di bagian tertentu kayak intro, nyalakan fitur loop (putar ulang), seleksi bagian tersebut, dan mainkan berputar-putar sambil mengatur volumenya.
Saat mengatur volume ini, tidak usah memikirkan clipping dan sebagainya. Intinya cari volume suara yang benar-benar pas. 

Setelah dapat balance, putar semua bagian lagu. Jika ada yang clipping, seleksi semua track dan turunkan volumenya bersamaan sehingga mendapatkan batas headroom yang aman. Beres kan?

Eits belum, itu baru volume. Setelah selesai volume kita perlu mengatur juga panning setiap track. Jangan sampai semuanya di panning tengah. Atur setiap track agar mengisi ruang kosong dalam konteks stereo terutama pada bagian yang paling rame banyak instrumennya dan klimaks di penghujung lagu. Kalu kurang jelas, baca lagi postingan lama ini.

CATATAN AKHIR

Sudah beres???
Belum, ini kan baru langkah awal.. Ini semua kita lakukan dengan catatan semua track yang terekam benar-benar sudah siap mixing. Kalau belum, berarti perlu editing lagi. Edit timing lah, edit nada lah, edit noise lah, banyakk...!! Itu kerjaan lain ya, makanya cari asisten biar gak pusing. Wakakakakak..

Kalau sudah barulah kita melaksanakan mixing pelan-pelan. Di sini ada aturan umum yang berlaku dalam setiap teknik mixing.
Inti dari Proses Mixing adalah: Dengarkan masalah. Perbaiki masalahnya. Ulangi Lagi.
Dengar suara vocal mendem, perbaiki dengan EQ menambah high dan mengurangi mid-low.
Dengar suara gitar naik turun, perbaiki dengan memasang compressor agar konsisten.
Dengar suara kick timbul-tenggelam, pasang Transient Shaper dan Compressor agar lebih menyentak dan konsisten.

Bereskan masalah yang sangat terasa jelas dahulu. Dan selesaikan semuanya SATU-PER-SATU.
Jangan menambah masalah dengan menyelesaikannya sekaligus. Dijamin pusing dan bising! 😆

Nanti ada saatnya kita merasa masalah sudah habis. Itu tandanya kita hampir mendekati garis finish! Ada langkah terakhir untuk mencapainya:

  1. Dengarkan dari awal sampai akhir tanpa pause dengan layar monitor mati.
  2. Catat jika ada masalah yang terdengar atau ada ide efek mixing yang ingin ditambahkan.
  3. Selesaikan masalah dan ide yang tercatat tadi hingga habis.
Jika kita putar berulang-ulang dan tidak ada catatan lagi, maka SELAMAT!
ANDA TELAH MENCAPAI GARIS FINISH MIXING!

Ada yang kurang jelas, gak setuju, atau pendapat lain? Atau mau request tutorial? Sampaikan di kolom komentar di bawah. Santai kok, ga bayar! Hehehehe..

Share this

0 Comment to "5 Langkah Mengawali Mixing di Home Studio"

Posting Komentar